Materi pelatihan yang mudah dipahami bukan berarti materi
harus sangat sederhana atau menghilangkan konsep penting. Materi yang baik
membantu peserta mengenali tujuan belajar, memahami informasi utama,
menghubungkannya dengan situasi nyata, lalu menggunakannya dalam latihan atau
pekerjaan.
Artikel ini membahas cara mengubah pengetahuan ahli menjadi
materi yang lebih terstruktur, memilih informasi penting, menggunakan bahasa
yang jelas, menyusun contoh, mengelola beban informasi, serta mengembangkan
latihan dan feedback. Pembahasan ditujukan bagi guru, trainer, fasilitator,
instruktur LPK, course creator, dan tim pelatihan organisasi. Prinsipnya dapat
diterapkan pada modul tertulis, slide, video microlearning, kelas online, dan
white-label learning platform agar kualitas materi tetap konsisten ketika
program dijalankan kepada lebih banyak peserta.
- Jawaban
Singkat
- Apa
yang Membuat Materi Pelatihan Mudah Dipahami?
- Mengapa
Materi Sering Sulit Dipahami Peserta?
- Mulai
dari Tujuan Belajar, Bukan dari Jumlah Materi
- Cara
Memilih Informasi yang Benar-Benar Dibutuhkan
- Cara
Menyusun Struktur Materi yang Jelas
- Cara
Menggunakan Bahasa yang Mudah Dipahami
- Cara
Menjelaskan Konsep Sulit
- Cara
Membuat Contoh yang Relevan
- Cara
Mengelola Beban Informasi Peserta
- Cara
Membuat Materi Microlearning
- Cara
Menggunakan Visual secara Tepat
- Cara
Menambahkan Latihan dan Feedback
- Contoh
Perbaikan Materi Pelatihan
- Cara
Menguji Materi Sebelum Digunakan
- Mengelola
Materi dalam Platform Pembelajaran
- Kesalahan
yang Sering Terjadi
- FAQ
Jawaban Singkat
Untuk membuat materi pelatihan yang mudah dipahami, tentukan
terlebih dahulu kemampuan yang harus dimiliki peserta setelah belajar. Pilih
hanya informasi yang mendukung tujuan tersebut, susun dari konsep dasar menuju
penerapan, gunakan bahasa yang sesuai dengan pengetahuan peserta, lalu sertakan
contoh, latihan, dan feedback.
Satu materi sebaiknya memiliki fokus yang jelas. Jangan
menempatkan terlalu banyak konsep, istilah, data, dan instruksi dalam satu
bagian. Jika topiknya kompleks, pecah menjadi beberapa unit yang saling
terhubung melalui learning path.
Guru, trainer, instruktur LPK, course creator, serta tim
pelatihan organisasi juga perlu mempertimbangkan konteks peserta: pengalaman
awal, waktu belajar, perangkat, koneksi internet, dan situasi ketika materi
akan diterapkan. Materi untuk peserta pemula tentu memerlukan struktur dan
dukungan berbeda dari materi untuk praktisi berpengalaman.
Materi yang mudah dipahami bukan materi yang dibuat dangkal.
Tantangannya adalah menjaga ketepatan isi sambil mengurangi kerumitan
penyajian. Karena itu, materi perlu diuji kepada calon peserta dan diperbaiki
berdasarkan pertanyaan, kesalahan, serta bagian yang paling sering membuat
mereka berhenti.
Apa yang Membuat Materi Pelatihan Mudah Dipahami?
Materi pelatihan mudah dipahami ketika peserta dapat
menemukan informasi utama, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya,
mengikuti alur penjelasan, dan menggunakan materi untuk melakukan sesuatu.
Kejelasan tidak hanya ditentukan oleh pemilihan kata.
Struktur, contoh, visual, durasi, urutan, dan aktivitas juga memengaruhi
pemahaman.
Materi yang mudah dipahami biasanya memiliki beberapa
karakteristik:
- Tujuan
belajar dinyatakan secara jelas.
- Satu
bagian membahas satu gagasan utama.
- Informasi
disusun dalam urutan yang masuk akal.
- Istilah
teknis dijelaskan saat pertama digunakan.
- Contoh
sesuai dengan kondisi peserta.
- Kalimat
tidak terlalu panjang.
- Visual
memiliki fungsi yang jelas.
- Peserta
diberi kesempatan berlatih.
- Feedback
menjelaskan kesalahan.
- Materi
dapat diulang atau ditinjau kembali.
Sebaliknya, materi dapat terasa sulit meskipun topiknya
sebenarnya sederhana jika peserta harus menebak apa yang penting, bagaimana
bagian-bagiannya berhubungan, dan apa yang harus dilakukan setelah membaca atau
menonton.
Materi yang jelas membantu peserta membedakan apa yang perlu dipahami, apa yang perlu dilakukan, dan apa yang cukup menjadi referensi.
Mengapa Materi Sering Sulit Dipahami Peserta?
Materi sering sulit dipahami karena dibuat dari sudut
pandang ahli, bukan dari sudut pandang orang yang baru mempelajari topik
tersebut.
Seorang trainer biasanya sudah mengenal istilah, prosedur,
konteks, dan pengecualian. Banyak hubungan antarkonsep terasa otomatis bagi
dirinya. Peserta belum tentu memiliki fondasi yang sama.
Pembuat materi melewatkan langkah yang dianggap sudah jelas
Ahli sering menjelaskan dari langkah kedua atau ketiga
karena langkah pertama dianggap terlalu dasar.
Contohnya, materi pembuatan laporan langsung meminta peserta
menganalisis data. Padahal sebagian peserta belum memahami cara membaca kolom
atau menentukan data yang relevan.
Akibatnya, peserta tidak hanya mempelajari kemampuan baru.
Mereka juga harus menebak pengetahuan dasar yang tidak pernah dijelaskan.
Terlalu banyak informasi dimasukkan sekaligus
Tim materi sering khawatir ada informasi penting yang
terlewat. Hasilnya, satu modul memuat definisi, sejarah, teori, prosedur,
pengecualian, data, studi kasus, dan tugas sekaligus.
Informasi tersebut mungkin benar, tetapi tidak semuanya
harus dipelajari pada waktu yang sama.
Peserta membutuhkan prioritas:
- Apa
yang wajib diketahui sekarang?
- Apa
yang dibutuhkan saat praktik?
- Apa
yang cukup menjadi referensi?
- Apa
yang dapat dipelajari pada tingkat berikutnya?
Materi hanya memindahkan penjelasan lisan
Slide atau modul terkadang dibuat dengan menyalin seluruh
isi ceramah. Padahal penjelasan lisan didukung intonasi, gestur, interaksi, dan
kesempatan bertanya.
Ketika dipindahkan ke bahan mandiri tanpa penyesuaian,
peserta menemukan paragraf panjang tanpa konteks yang cukup.
Bahasa tidak sesuai dengan peserta
Bahasa dapat terlalu akademik, terlalu teknis, terlalu
birokratis, atau terlalu banyak menggunakan singkatan.
Contoh:
“Peserta diharapkan mampu melakukan optimalisasi terhadap
proses implementasi prosedur operasional.”
Versi lebih jelas:
“Peserta mampu memperbaiki cara menjalankan prosedur
operasional.”
Maknanya tidak harus menjadi lebih dangkal. Kalimat hanya
dibuat lebih langsung.
Materi tidak memberi kesempatan mencoba
Peserta mungkin memahami penjelasan saat membaca, tetapi
belum tentu mampu menggunakannya.
Tanpa latihan, pembuat materi tidak mengetahui apakah
peserta benar-benar memahami konsep atau hanya merasa familiar dengan
istilahnya.
Kesulitan peserta tidak selalu berasal dari topiknya. Sering
kali, kesulitan muncul karena urutan, bahasa, contoh, dan instruksi belum
dirancang dari perspektif pemula.

Mulai dari Tujuan Belajar, Bukan dari Jumlah Materi
Tujuan belajar menentukan informasi mana yang perlu
dimasukkan dan bagaimana peserta membuktikan bahwa ia sudah memahami materi.
Tanpa tujuan yang jelas, tim cenderung mengumpulkan sebanyak
mungkin bahan. Materi terlihat lengkap, tetapi tidak memiliki fokus.
Tentukan apa yang harus dapat dilakukan peserta
Bandingkan dua tujuan berikut.
Tujuan terlalu umum:
“Peserta memahami pelayanan pelanggan.”
Tujuan lebih jelas:
“Peserta mampu merespons keluhan pelanggan melalui tiga
tahap: mendengarkan, mengklarifikasi, dan memberikan tindak lanjut.”
Tujuan kedua membantu menentukan:
- Konsep
yang perlu dijelaskan.
- Contoh
yang perlu diberikan.
- Latihan
yang perlu dibuat.
- Bentuk
asesmen.
- Informasi
yang tidak perlu dimasukkan.
Gunakan pertanyaan penyaring
Sebelum memasukkan informasi, tanyakan:
- Apakah
informasi ini dibutuhkan untuk mencapai tujuan?
- Apakah
informasi ini akan digunakan dalam latihan?
- Apakah
informasi ini akan dinilai?
- Apakah
peserta membutuhkannya sekarang?
- Apakah
informasi ini lebih tepat menjadi materi tambahan?
Jika jawabannya tidak, informasi tersebut mungkin dapat
dipindahkan ke referensi, lampiran, atau materi lanjutan.
Bedakan tujuan materi dan tujuan program
Satu program dapat memiliki tujuan besar, tetapi setiap
modul membutuhkan tujuan yang lebih kecil.
Contoh tujuan program:
“Peserta mampu mengelola pelatihan online.”
Tujuan tersebut dapat dipecah menjadi:
- Mengidentifikasi
kebutuhan peserta.
- Menulis
tujuan pembelajaran.
- Menyusun
learning path.
- Membuat
materi.
- Mengembangkan
kuis.
- Memantau
progres.
- Mengevaluasi
program.
Pembagian ini membantu peserta belajar secara bertahap.
Panduan penyusunan tujuan dan alur dapat dibaca melalui cara
membuat rancangan pembelajaran yang jelas untuk pelatihan online.
Cara Memilih Informasi yang Benar-Benar Dibutuhkan
Pemilihan informasi adalah proses menentukan materi inti,
materi pendukung, dan referensi tambahan.
Semua informasi tidak harus ditempatkan dalam jalur utama
pembelajaran.
Gunakan tiga kategori informasi
Materi inti:
Informasi yang harus dipahami untuk mencapai tujuan.
Materi pendukung:
Contoh, penjelasan tambahan, atau konteks yang membantu
memahami materi inti.
Materi referensi:
Informasi yang mungkin dibutuhkan kemudian, tetapi tidak
harus diingat atau dipelajari saat itu.
Contoh pada pelatihan pencatatan keuangan sederhana:
Materi inti:
- Perbedaan
pemasukan dan pengeluaran.
- Cara
mencatat transaksi.
- Cara
menjumlahkan hasil.
Materi pendukung:
- Contoh
transaksi usaha.
- Kesalahan
pencatatan.
- Template
sederhana.
Materi referensi:
- Jenis
laporan keuangan lengkap.
- Istilah
akuntansi lanjutan.
- Regulasi
perpajakan yang belum relevan dengan tujuan awal.
Tentukan tingkat kedalaman
Satu topik dapat dijelaskan pada tingkat berbeda.
Contohnya, keamanan data untuk seluruh pegawai tidak
membutuhkan kedalaman yang sama dengan pelatihan teknis untuk tim teknologi
informasi.
Tingkat kedalaman dipengaruhi oleh:
- Peran
peserta.
- Risiko
pekerjaan.
- Pengalaman
awal.
- Durasi
program.
- Kompetensi
akhir.
- Jenis
keputusan yang akan dibuat.
Kurangi pengulangan yang tidak memiliki fungsi
Pengulangan dapat membantu belajar jika digunakan untuk:
- Mengingat
kembali konsep.
- Menunjukkan
penerapan berbeda.
- Memperkuat
langkah.
- Menghubungkan
materi.
Namun, pengulangan tidak membantu jika paragraf yang sama
hanya dipindahkan ke beberapa bagian tanpa perubahan fungsi.
Cara Menyusun Struktur Materi yang Jelas
Struktur materi membantu peserta memahami hubungan antara
satu bagian dan bagian lainnya.
Struktur tidak harus panjang. Bahkan video dua menit tetap
membutuhkan awal, isi, dan penutup yang jelas.
Gunakan pola masalah, penjelasan, contoh, dan praktik
Salah satu struktur yang dapat digunakan:
- Masalah
atau situasi.
- Tujuan
dan manfaat.
- Penjelasan
inti.
- Contoh.
- Latihan.
- Feedback.
- Ringkasan.
- Tindakan
berikutnya.
Struktur ini membuat peserta mengetahui mengapa materi perlu
dipelajari sebelum menerima teori.
Berikan orientasi pada awal bagian
Pada awal modul, jelaskan:
- Apa
yang akan dipelajari?
- Mengapa
materi berguna?
- Berapa
lama waktu yang dibutuhkan?
- Apa
yang harus dilakukan?
- Bagaimana
hasilnya dinilai?
Orientasi mengurangi beban peserta untuk menebak alur.
Gunakan heading yang menjelaskan isi
Heading yang kurang membantu:
“Pembahasan”
Heading yang lebih jelas:
“Cara Memisahkan Uang Usaha dan Uang Pribadi”
Heading sebaiknya memberi gambaran tentang pertanyaan atau
kebutuhan yang dijawab.
Gunakan satu gagasan utama per bagian
Satu paragraf atau satu slide sebaiknya memiliki satu fungsi
utama.
Jika satu bagian membahas definisi, manfaat, prosedur,
pengecualian, dan contoh secara bersamaan, pecah menjadi beberapa bagian.
Hubungkan setiap bagian
Gunakan transisi yang menjelaskan hubungan.
Contoh:
“Setelah memahami tiga jenis keluhan pelanggan, langkah
berikutnya adalah memilih respons yang sesuai untuk masing-masing situasi.”
Transisi tersebut membantu peserta melihat alur, bukan
sekadar kumpulan subtopik.
|
Bagian Materi |
Fungsi |
Pertanyaan Peserta |
|
Pembukaan |
Memberikan konteks dan perhatian |
Mengapa saya perlu mempelajarinya? |
|
Tujuan |
Menjelaskan hasil |
Apa yang akan dapat saya lakukan? |
|
Materi inti |
Memberikan pengetahuan |
Apa yang perlu saya pahami? |
|
Contoh |
Menunjukkan penerapan |
Seperti apa bentuknya? |
|
Latihan |
Memberikan kesempatan mencoba |
Apakah saya bisa melakukannya? |
|
Feedback |
Memperbaiki pemahaman |
Apa yang sudah tepat dan perlu diperbaiki? |
|
Ringkasan |
Menguatkan informasi utama |
Apa yang harus saya ingat? |
|
Tindak lanjut |
Mengarahkan penerapan |
Apa yang harus saya lakukan berikutnya? |

Cara Menggunakan Bahasa yang Mudah Dipahami
Bahasa yang mudah dipahami adalah bahasa yang sesuai dengan
pengetahuan, konteks, dan kebutuhan peserta.
Sederhana bukan berarti tidak profesional. Kalimat dapat
tetap akurat tanpa menggunakan struktur yang rumit.
Gunakan kalimat langsung
Kalimat rumit:
“Pelaksanaan proses verifikasi perlu dilakukan oleh peserta
sebelum tindakan pengiriman data dilaksanakan.”
Kalimat lebih jelas:
“Peserta harus memverifikasi data sebelum mengirimkannya.”
Kalimat kedua memiliki subjek dan tindakan yang jelas.
Hindari kata benda abstrak yang berlebihan
Kalimat:
“Diperlukan peningkatan terhadap pelaksanaan komunikasi.”
Perbaikan:
“Tim perlu memperbaiki cara berkomunikasi.”
Kata kerja membantu peserta memahami tindakan.
Jelaskan istilah saat pertama digunakan
Contoh:
“Learning path adalah urutan materi dan aktivitas yang
membantu peserta bergerak dari kemampuan awal menuju kompetensi yang
ditargetkan.”
Setelah definisi diberikan, istilah tersebut dapat digunakan
kembali secara konsisten.
Hindari terlalu banyak istilah untuk konsep yang sama
Jika Anda memilih istilah “peserta”, jangan sering berganti
menjadi “learner”, “pengguna”, “siswa”, dan “trainee” tanpa alasan.
Konsistensi membantu peserta membangun pemahaman.
Sesuaikan dengan tingkat pembaca
Materi untuk praktisi dapat menggunakan istilah teknis yang
memang digunakan dalam pekerjaan. Materi untuk pemula memerlukan definisi,
contoh, dan penjelasan hubungan antarkonsep.
Jangan menyederhanakan istilah yang sebenarnya harus
dikuasai. Jelaskan istilah tersebut dan berikan kesempatan menggunakannya.
Gunakan daftar ketika membantu pemindaian
Daftar cocok untuk:
- Langkah.
- Kriteria.
- Syarat.
- Pilihan.
- Checklist.
- Komponen.
Jangan mengubah semua paragraf menjadi daftar. Hubungan
sebab-akibat dan penjelasan tetap lebih baik disampaikan dalam paragraf.
Cara Menjelaskan Konsep Sulit
Konsep sulit perlu dipecah menjadi bagian yang dapat
dipahami dan dihubungkan kembali secara bertahap.
Tujuannya bukan menghilangkan kompleksitas, tetapi membantu
peserta membangun pemahaman tanpa menghadapi seluruh kompleksitas sekaligus.
Mulai dari masalah yang sudah dikenal
Sebelum memberikan definisi, gunakan situasi.
Contoh untuk menjelaskan asesmen formatif:
“Seorang guru baru mengetahui bahwa separuh siswa belum
memahami materi setelah ujian akhir. Bagaimana guru dapat menemukan masalah
tersebut lebih awal?”
Situasi tersebut memberi peserta konteks untuk memahami
fungsi asesmen formatif.
Gunakan definisi yang jelas
Setelah konteks diberikan, sampaikan definisi langsung:
“Asesmen formatif adalah proses mengumpulkan informasi
selama pembelajaran untuk mengetahui pemahaman peserta dan menentukan bantuan
berikutnya.”
Definisi menjelaskan kategori, fungsi, dan tujuan praktis.
Pecah menjadi komponen
Jika konsep memiliki beberapa bagian, jelaskan satu per
satu.
Contoh feedback yang efektif:
- Menyebutkan
hal yang sudah tepat.
- Menjelaskan
bagian yang perlu diperbaiki.
- Memberikan
tindakan berikutnya.
Setelah masing-masing dijelaskan, tunjukkan hubungan
ketiganya.
Gunakan contoh dan noncontoh
Contoh membantu peserta mengenali bentuk yang benar.
Noncontoh membantu melihat batasnya.
Contoh feedback:
“Struktur laporan sudah runtut. Tambahkan sumber data pada
bagian hasil agar kesimpulannya dapat diperiksa.”
Noncontoh:
“Laporannya lumayan. Perbaiki lagi.”
Gunakan analogi secara hati-hati
Analogi dapat membantu ketika peserta belum memiliki
kerangka untuk memahami konsep.
Namun, analogi memiliki batas. Jelaskan bagian mana yang
sama dan bagian mana yang tidak.
Jangan menggunakan analogi hanya karena menarik jika justru
menciptakan pemahaman yang salah.
Tampilkan proses, bukan hanya hasil
Peserta sering melihat hasil akhir tanpa memahami keputusan
yang menghasilkan hasil tersebut.
Tunjukkan:
- Bagaimana
ahli membaca masalah.
- Informasi
apa yang diperhatikan.
- Pilihan
apa yang dipertimbangkan.
- Mengapa
satu pilihan dipilih.
- Kesalahan
apa yang dihindari.
Pendekatan ini sangat berguna untuk pelatihan keterampilan
dan pengambilan keputusan.
Peserta tidak hanya membutuhkan jawaban yang benar. Mereka perlu melihat bagaimana jawaban tersebut dibangun.
Cara Membuat Contoh yang Relevan
Contoh yang relevan membantu peserta menghubungkan konsep
dengan situasi yang mungkin mereka hadapi.
Contoh sebaiknya mendekati peran, skala, bahasa, dan
keputusan peserta.
Sesuaikan dengan jenis peserta
Untuk guru:
- Pengelolaan
kelas.
- Asesmen.
- Komunikasi
dengan siswa.
- Penyusunan
materi.
- Feedback
tugas.
Untuk LPK:
- Praktik
kerja.
- Persiapan
wawancara.
- Pelayanan
pelanggan.
- Keselamatan
kerja.
- Sertifikasi.
Untuk organisasi:
- Onboarding.
- Prosedur
internal.
- Keamanan
data.
- Supervisi.
- Komunikasi
tim.
Untuk program komunitas:
- Pendampingan.
- Pengelolaan
kelompok.
- Pencatatan
usaha.
- Edukasi
keluarga.
- Pelaporan
kegiatan.
Hindari contoh yang terlalu sempurna
Situasi nyata sering mengandung informasi yang tidak
lengkap, keterbatasan waktu, dan beberapa pilihan.
Contoh yang terlalu bersih dapat membuat peserta memahami
teori tetapi kesulitan menggunakannya.
Setelah memberikan contoh dasar, tambahkan variasi:
- Bagaimana
jika pelanggan marah?
- Bagaimana
jika data tidak lengkap?
- Bagaimana
jika peserta tidak memiliki perangkat?
- Bagaimana
jika dua aturan bertentangan?
- Bagaimana
jika waktu sangat terbatas?
Jangan menggunakan satu contoh untuk terlalu banyak konsep
Satu studi kasus yang sangat panjang dapat membebani
peserta.
Gunakan contoh singkat untuk konsep dasar, lalu gunakan
kasus lebih kompleks setelah fondasi terbentuk.
Jelaskan alasan di balik contoh
Jangan hanya memberikan jawaban benar.
Jelaskan:
- Apa
yang diperhatikan.
- Mengapa
pilihan tersebut tepat.
- Apa
risikonya jika memilih cara lain.
- Bagaimana
prinsip diterapkan.
Cara Mengelola Beban Informasi Peserta
Beban informasi adalah jumlah unsur yang perlu diproses
peserta pada satu waktu.
Materi menjadi sulit ketika peserta harus memahami terlalu
banyak hal sekaligus atau mengingat informasi lama sambil memproses konsep
baru.
Kelompokkan informasi
Kelompokkan langkah atau konsep berdasarkan fungsi.
Contoh prosedur layanan pelanggan:
- Dengarkan.
- Klarifikasi.
- Tanggapi.
- Konfirmasi
tindak lanjut.
Empat kelompok lebih mudah dipahami daripada daftar 15
tindakan tanpa struktur.
Gunakan pengungkapan bertahap
Jangan menampilkan semua detail sejak awal.
Mulailah dengan gambaran besar, kemudian buka detail ketika
dibutuhkan.
Dalam platform digital, materi tambahan dapat ditempatkan
dalam:
- Bagian
“Pelajari lebih lanjut”.
- Referensi.
- FAQ.
- Dokumen
unduhan.
- Modul
lanjutan.
- Tooltip
atau penjelasan tambahan.
Hindari tampilan yang terlalu ramai
Materi visual dapat membebani peserta jika berisi:
- Terlalu
banyak warna.
- Banyak
jenis huruf.
- Ikon
tanpa fungsi.
- Animasi
terus-menerus.
- Diagram
dengan terlalu banyak panah.
- Teks
kecil.
- Gambar
dekoratif.
- Beberapa
pesan utama sekaligus.
Visual sebaiknya membantu peserta memusatkan perhatian.
Berikan jeda untuk memproses
Dalam video atau sesi langsung, beri waktu setelah konsep
penting.
Gunakan:
- Pertanyaan
refleksi.
- Latihan
singkat.
- Ringkasan.
- Contoh.
- Kesempatan
mencatat.
- Diskusi.
Materi yang disampaikan cepat belum tentu membuat
pembelajaran lebih efisien.
Cara Membuat Materi Microlearning
Microlearning adalah pendekatan pembelajaran yang membagi
materi menjadi unit kecil, fokus, dan mudah diakses.
Pendekatan ini cocok untuk peserta yang belajar melalui
smartphone, memiliki waktu terbatas, atau perlu mengulang materi saat bekerja.
Satu unit, satu tujuan
Contoh unit yang fokus:
- Cara
membuat pertanyaan pembuka.
- Cara
memisahkan uang usaha.
- Cara
mengenali satu jenis risiko.
- Cara
memberikan feedback spesifik.
- Cara
menggunakan satu fitur.
- Cara
mempraktikkan satu prosedur.
Topik terlalu luas:
- Semua
tentang kepemimpinan.
- Panduan
lengkap pemasaran.
- Keseluruhan
proses pelayanan.
- Dasar-dasar
pendidikan.
Topik besar perlu dipecah menjadi learning path.
Gunakan struktur pendek tetapi utuh
Satu unit microlearning tetap perlu memiliki:
- Konteks.
- Tujuan.
- Penjelasan.
- Contoh.
- Aktivitas.
- Feedback
atau rangkuman.
Memotong video panjang menjadi beberapa bagian tanpa menata
ulang isi tidak otomatis menghasilkan microlearning.
Hubungkan setiap unit
Peserta perlu mengetahui:
- Mengapa
unit ini perlu dipelajari?
- Apa
hubungannya dengan unit sebelumnya?
- Apa
yang harus dilakukan setelahnya?
- Bagaimana
unit membantu kompetensi akhir?
Gunakan judul, urutan, dan deskripsi yang jelas.
Buat materi mudah diulang
Salah satu kekuatan microlearning adalah kemudahan mengakses
kembali informasi tertentu.
Gunakan:
- Judul
spesifik.
- Durasi
singkat.
- Ringkasan.
- Checklist.
- Bookmark.
- Kategori.
- Transkrip
atau teks pendamping.
- Materi
unduhan.

Cara Menggunakan Visual secara Tepat
Visual digunakan untuk menjelaskan, menunjukkan hubungan,
mendemonstrasikan proses, atau mengarahkan perhatian.
Visual tidak perlu ditambahkan pada setiap halaman jika
tidak memiliki fungsi.
Gunakan foto untuk menunjukkan konteks atau kondisi nyata
Foto cocok untuk:
- Situasi
kerja.
- Peralatan.
- Posisi
tubuh.
- Kondisi
lapangan.
- Contoh
produk atau dokumen.
- Tahapan
praktik.
Foto harus cukup jelas dan tidak dipenuhi elemen yang
mengganggu.
Gunakan diagram untuk menunjukkan hubungan
Diagram cocok untuk:
- Alur.
- Struktur.
- Hubungan
sebab-akibat.
- Tahapan.
- Perbandingan.
- Siklus.
Gunakan label singkat dan arah yang mudah diikuti.
Gunakan demonstrasi untuk keterampilan
Video atau rangkaian gambar cocok untuk:
- Penggunaan
alat.
- Prosedur.
- Gerakan.
- Percakapan.
- Pengoperasian
sistem.
- Praktik
pelayanan.
Tampilkan langkah dari sudut yang mudah dilihat peserta.
Jangan menampilkan teks yang sama dua kali tanpa fungsi
Jika narasi video membaca seluruh teks yang sama di layar,
peserta harus memproses suara dan tulisan secara bersamaan.
Gunakan teks layar untuk:
- Kata
kunci.
- Langkah.
- Istilah.
- Angka.
- Peringatan.
- Ringkasan.
Perhatikan akses mobile
Pastikan:
- Teks
cukup besar.
- Diagram
tidak terlalu lebar.
- Tombol
mudah dipilih.
- Gambar
tidak membutuhkan zoom berlebihan.
- File
tidak terlalu besar.
- Informasi
utama tetap terlihat pada layar kecil.
Cara Menambahkan Latihan dan Feedback
Latihan membantu peserta mengubah informasi menjadi
kemampuan.
Latihan sebaiknya muncul selama proses belajar, bukan hanya
pada akhir program.
Mulai dari latihan sederhana
Urutan latihan dapat berupa:
- Mengenali.
- Memilih.
- Mengurutkan.
- Memperbaiki.
- Menerapkan.
- Membuat.
- Mengevaluasi.
Peserta tidak langsung diminta membuat hasil kompleks
sebelum memahami komponennya.
Gunakan situasi nyata
Contoh latihan untuk pelatihan guru:
“Baca respons siswa berikut. Buat satu pertanyaan lanjutan
untuk mengetahui alasan di balik jawabannya.”
Contoh untuk layanan pelanggan:
“Pelanggan mengeluh karena pesanan terlambat. Pilih respons
pembuka yang paling tepat dan jelaskan alasannya.”
Berikan instruksi yang dapat diuji
Instruksi kurang jelas:
“Diskusikan materi ini.”
Instruksi lebih jelas:
“Diskusikan dua risiko dari prosedur tersebut, pilih satu
yang paling mungkin terjadi, lalu tuliskan tindakan pencegahannya.”
Berikan feedback langsung jika memungkinkan
Feedback yang baik:
- Menyebutkan
hasil.
- Menjelaskan
alasan.
- Menunjukkan
bagian yang tepat.
- Menjelaskan
perbaikan.
- Memberikan
tindakan berikutnya.
Feedback kurang membantu:
“Jawaban salah. Silakan coba kembali.”
Feedback lebih membantu:
“Jawaban ini belum tepat karena Anda langsung memberikan
solusi tanpa mengklarifikasi masalah pelanggan. Tanyakan detail keluhan sebelum
menawarkan tindak lanjut.”
Berikan kesempatan memperbaiki
Revisi membantu peserta melihat feedback sebagai bagian dari
belajar, bukan hanya penilaian akhir.
Kesempatan memperbaiki dapat berupa:
- Mengulang
kuis.
- Menulis
ulang jawaban.
- Memperbaiki
tugas.
- Membandingkan
dengan contoh.
- Melakukan
simulasi kedua.
- Menerapkan
feedback.
Prinsip motivasional dalam latihan dan feedback dapat
dikembangkan menggunakan contoh
implementasi model ARCS dalam bahan ajar dan modul pelatihan.
Contoh Perbaikan Materi Pelatihan
Berikut beberapa contoh perubahan dari materi yang terlalu
umum menjadi materi yang lebih jelas.
Contoh 1: tujuan modul
Sebelum:
“Modul ini membahas komunikasi efektif.”
Sesudah:
“Setelah menyelesaikan modul, peserta mampu menyusun respons
keluhan yang memuat pengakuan masalah, klarifikasi, dan tindak lanjut.”
Perbaikan:
Tujuan menjelaskan kemampuan yang dapat diamati.
Contoh 2: pembukaan
Sebelum:
“Pelayanan pelanggan merupakan salah satu aspek penting
dalam organisasi.”
Sesudah:
“Seorang pelanggan mengirim tiga pesan karena belum menerima
jawaban mengenai pesanannya. Respons pertama apa yang sebaiknya diberikan?”
Perbaikan:
Pembukaan langsung memperkenalkan keputusan nyata.
Contoh 3: definisi
Sebelum:
“Feedback merupakan suatu bentuk proses komunikasi evaluatif
yang dilaksanakan dalam rangka memberikan informasi mengenai pencapaian
individu.”
Sesudah:
“Feedback adalah informasi yang membantu seseorang
mengetahui apa yang sudah tepat, apa yang perlu diperbaiki, dan tindakan
berikutnya.”
Perbaikan:
Definisi lebih langsung dan menjelaskan fungsi.
Contoh 4: instruksi tugas
Sebelum:
“Buatlah sebuah rancangan pembelajaran yang menarik.”
Sesudah:
“Buat rancangan satu sesi berdurasi 30 menit. Cantumkan
tujuan belajar, pertanyaan pembuka, satu contoh, satu aktivitas peserta, dan
satu metode evaluasi.”
Perbaikan:
Ruang lingkup dan output menjadi jelas.
Contoh 5: feedback
Sebelum:
“Jawaban Anda belum tepat.”
Sesudah:
“Jawaban Anda sudah menyebutkan masalah pelanggan, tetapi
belum memberikan langkah tindak lanjut. Tambahkan tindakan yang akan dilakukan
dan kapan pelanggan menerima kabar berikutnya.”
Perbaikan:
Peserta mengetahui bagian yang sudah benar dan tindakan yang
diperlukan.
|
Elemen |
Sebelum |
Sesudah |
Dampak |
|
Tujuan |
Membahas topik |
Menjelaskan kemampuan |
Fokus lebih jelas |
|
Pembukaan |
Pernyataan umum |
Masalah nyata |
Relevansi meningkat |
|
Definisi |
Abstrak dan panjang |
Langsung dan fungsional |
Lebih mudah dipahami |
|
Instruksi |
Terbuka dan kabur |
Output dan kriteria jelas |
Confidence meningkat |
|
Feedback |
Hanya menilai |
Menjelaskan perbaikan |
Peserta dapat merevisi |

Cara Menguji Materi Sebelum Digunakan
Materi perlu diuji karena pembuatnya sudah terlalu mengenal
isi sehingga sulit melihat bagian yang membingungkan.
Uji tidak harus melibatkan banyak orang. Beberapa peserta
yang sesuai target dapat memberikan informasi penting.
Minta peserta menjelaskan kembali
Setelah membaca atau menonton, tanyakan:
- Apa
gagasan utamanya?
- Apa
yang harus dilakukan?
- Bagian
mana yang tidak jelas?
- Istilah
apa yang belum dipahami?
- Apa
manfaat materi ini?
- Apa
langkah berikutnya?
Jangan hanya bertanya, “Apakah materinya jelas?” Peserta
mungkin menjawab ya meskipun pemahamannya berbeda.
Amati perilaku
Perhatikan:
- Bagian
yang dibaca ulang.
- Waktu
yang dibutuhkan.
- Instruksi
yang terlewat.
- Kesalahan
yang berulang.
- Bagian
yang dilewati.
- Pertanyaan
yang muncul.
- Tampilan
yang sulit digunakan.
- Materi
yang tidak selesai.
Gunakan teknik think aloud
Minta peserta mengucapkan apa yang mereka pikirkan saat
menggunakan materi.
Contohnya:
“Saya tidak tahu harus menekan tombol yang mana.”
“Saya mengira bagian ini hanya contoh.”
“Saya belum memahami istilah tersebut.”
Teknik ini membantu menemukan masalah struktur dan navigasi.
Uji pada perangkat nyata
Materi yang terlihat baik pada laptop belum tentu nyaman
pada smartphone.
Periksa:
- Ukuran
teks.
- Posisi
tombol.
- Kecepatan
akses.
- Ukuran
video.
- Tampilan
tabel.
- Proses
unduh.
- Formulir.
- Kuis.
- Navigasi.
Bedakan masalah isi dan masalah teknologi
Peserta dapat gagal karena:
- Materi
tidak jelas.
- Instruksi
tidak lengkap.
- Platform
sulit digunakan.
- Koneksi
terganggu.
- File
terlalu besar.
- Login
bermasalah.
- Format
tidak didukung.
Catat penyebabnya agar solusi tidak salah sasaran.
Mengelola Materi dalam Platform Pembelajaran
Platform pembelajaran membantu menyimpan, menyusun,
mendistribusikan, dan mengevaluasi materi secara lebih konsisten.
Nilainya bukan hanya pada penyimpanan file. Platform
menghubungkan materi dengan peserta, aktivitas, progres, feedback, serta
sertifikat.
Susun materi dalam learning path
Kelompokkan materi menjadi:
- Orientasi.
- Dasar.
- Praktik.
- Penguatan.
- Evaluasi.
- Tindak
lanjut.
Urutan membantu peserta mengetahui apa yang harus dipelajari
dan mengurangi pilihan yang tidak diperlukan.
Gunakan metadata yang jelas
Setiap materi sebaiknya memiliki:
- Judul
spesifik.
- Deskripsi.
- Tujuan.
- Durasi.
- Tingkat
kesulitan.
- Prasyarat.
- Format.
- Aktivitas
berikutnya.
Metadata membantu peserta memilih dan membantu tim mengelola
konten.
Gunakan learning analytics untuk menemukan masalah
Data yang dapat diperiksa:
- Tingkat
pembukaan.
- Penyelesaian.
- Durasi
akses.
- Titik
berhenti.
- Hasil
kuis.
- Percobaan
ulang.
- Tugas
yang tidak dikumpulkan.
- Materi
yang sering dibuka kembali.
- Pertanyaan
peserta.
Data tidak langsung menjelaskan penyebab, tetapi menunjukkan
bagian yang perlu ditinjau.
Kelola versi materi
Materi perlu diperbarui ketika:
- Prosedur
berubah.
- Regulasi
berubah.
- Contoh
tidak lagi relevan.
- Peserta
menemukan kesalahan.
- Data
menunjukkan bagian yang membingungkan.
- Format
perlu disesuaikan.
Catat versi, tanggal pembaruan, dan pemilik materi. Hal ini
penting ketika banyak trainer menggunakan modul yang sama.
Gunakan platform bermerek jika dibutuhkan
White-label learning platform adalah platform pembelajaran
yang dapat dijalankan dengan identitas lembaga sendiri.
Pendekatan ini dapat membantu lembaga mengelola:
- Materi.
- Kelas.
- Peserta.
- Trainer.
- Progres.
- Kuis.
- Sertifikat.
- Komunikasi.
- Laporan.
- Pengalaman
merek.
FitAcademy mendukung penyelenggara pelatihan dalam menyusun
materi microlearning, mengatur learning path, mengelola peserta, memantau
progres, dan memberikan sertifikat digital melalui platform pembelajaran yang
dapat digunakan langsung maupun disesuaikan dengan identitas lembaga.
Namun, platform tidak otomatis membuat materi mudah
dipahami. Struktur isi, bahasa, contoh, aktivitas, dan feedback tetap harus
dirancang secara sengaja.
Saat program berkembang, tantangannya bukan hanya membuat
materi baru. Tantangannya adalah menjaga agar materi tetap akurat, konsisten,
mudah ditemukan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Memasukkan semua pengetahuan ahli
Trainer ingin menunjukkan keluasan topik sehingga semua
informasi dimasukkan.
Akibatnya, peserta sulit membedakan konsep inti dan
informasi tambahan.
Pilih informasi berdasarkan tujuan. Pindahkan detail
lanjutan ke materi referensi.
Menggunakan bahasa formal secara berlebihan
Bahasa formal sering dianggap lebih profesional. Padahal
kalimat yang terlalu panjang dapat mengaburkan tindakan.
Gunakan bahasa langsung dan tetap akurat. Profesionalisme
berasal dari ketepatan, bukan kerumitan.
Menganggap visual selalu mempermudah
Diagram yang memiliki banyak panah, warna, ikon, dan teks
kecil dapat lebih sulit dipahami daripada penjelasan sederhana.
Gunakan visual hanya jika membantu menjelaskan hubungan,
proses, atau bentuk.
Membuat video tanpa storyboard
Video dibuat dengan merekam trainer berbicara panjang tanpa
struktur.
Akibatnya, pembukaan terlalu lama, pesan utama tidak jelas,
dan contoh muncul terlambat.
Gunakan storyboard yang memuat tujuan, pembukaan,
penjelasan, contoh, aktivitas, dan penutup.
Tidak memberikan contoh
Definisi tanpa contoh membuat peserta mengenali istilah
tetapi belum tentu memahami penerapannya.
Berikan contoh, noncontoh, dan alasan.
Memberi contoh yang terlalu jauh
Contoh dari konteks yang tidak dikenal menambah informasi
yang harus diproses.
Gunakan contoh sesuai pekerjaan, komunitas, atau situasi
peserta.
Membuat tugas tanpa persiapan
Peserta langsung diminta membuat hasil kompleks setelah
membaca teori.
Tambahkan contoh, latihan terbimbing, rubrik, dan kesempatan
mencoba.
Menguji hal yang tidak diajarkan
Kuis menggunakan istilah atau situasi yang tidak pernah
dibahas.
Hal ini menurunkan kepercayaan peserta terhadap program dan
membuat asesmen terasa tidak adil.
Pastikan asesmen selaras dengan tujuan dan materi.
Mengukur keberhasilan hanya dari penyelesaian
Peserta yang menyelesaikan materi belum tentu memahami atau
menerapkannya.
Gabungkan data penyelesaian dengan hasil latihan, tugas,
feedback, dan bukti penerapan.
Tidak memperbarui materi
Materi lama terus digunakan meskipun prosedur, contoh, atau
kebutuhan peserta berubah.
Tetapkan jadwal review dan pemilik konten.
FitAcademy
Buat Materi Belajar dan Kelola Peserta dalam Satu Platform
FitAcademy membantu trainer, lembaga, komunitas, dan organisasi menyusun materi microlearning, mengelola kelas, memantau progres, memberikan kuis, serta menerbitkan sertifikat digital melalui platform pembelajaran yang mudah diakses peserta.
Bergabung di FitAcademyFAQ
Bagaimana cara membuat materi pelatihan yang mudah dipahami?
Mulailah dari tujuan belajar, pilih informasi yang
benar-benar dibutuhkan, susun secara bertahap, gunakan bahasa yang sesuai
dengan peserta, dan tambahkan contoh serta latihan. Setelah itu, uji materi
kepada calon peserta untuk menemukan istilah, instruksi, atau bagian yang masih
membingungkan.
Mengapa materi pelatihan sering terlalu panjang?
Materi sering terlalu panjang karena pembuatnya ingin
memasukkan seluruh pengetahuan yang dimiliki. Solusinya adalah membedakan
materi inti, materi pendukung, dan referensi. Informasi yang tidak diperlukan
untuk mencapai tujuan utama dapat ditempatkan pada lampiran atau materi
lanjutan.
Apakah bahasa sederhana membuat materi kurang profesional?
Tidak. Bahasa sederhana tetap dapat akurat dan profesional.
Gunakan kalimat langsung, istilah yang konsisten, dan definisi yang jelas.
Hindari struktur panjang atau istilah abstrak jika ada cara yang lebih mudah
untuk menyampaikan makna yang sama.
Berapa banyak materi yang sebaiknya dimasukkan dalam satu modul?
Jumlahnya bergantung pada tujuan dan kemampuan peserta. Satu
modul sebaiknya memiliki satu fokus utama atau beberapa tujuan yang saling
berhubungan. Untuk microlearning, satu unit idealnya membahas satu konsep,
keputusan, atau keterampilan.
Apakah video lebih mudah dipahami daripada teks?
Tidak selalu. Video cocok untuk demonstrasi dan penjelasan
singkat, sedangkan teks lebih mudah digunakan sebagai referensi. Diagram cocok
untuk hubungan dan proses, sementara tugas praktik diperlukan untuk penerapan.
Format perlu dipilih berdasarkan tujuan belajar.
Bagaimana cara mengetahui apakah materi sudah dipahami?
Gunakan latihan, pertanyaan penerapan, tugas, demonstrasi,
dan permintaan menjelaskan kembali. Jangan hanya bertanya apakah materi sudah
jelas. Periksa apakah peserta dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk
menyelesaikan masalah atau menghasilkan sesuatu.




