Belajar itu bukan cuma soal duduk lama di depan buku atau layar laptop. Banyak siswa dan mahasiswa merasa sudah belajar berjam-jam, tapi hasilnya tidak sebanding. Bisa jadi masalahnya bukan di niat atau kemampuan, melainkan di kebiasaan belajar yang keliru. Tanpa disadari, beberapa rutinitas kecil justru bikin proses belajar jadi tidak efektif.
Artikel ini akan membahas kebiasaan
buruk saat belajar yang sering dilakukan siswa dan mahasiswa, sekaligus kenapa
kebiasaan tersebut perlu dihindari supaya proses belajar jadi lebih fokus dan
hasilnya maksimal.
Kenapa Kebiasaan Belajar Itu Penting
Kebiasaan belajar membentuk cara
otak menerima dan mengolah informasi. Ketika kebiasaan yang dibangun salah,
materi yang dipelajari akan cepat lupa dan sulit dipahami. Inilah alasan kenapa
banyak pelajar merasa belajar itu melelahkan tapi tidak produktif.
Menurut riset dari Harvard
University, pelajar yang memiliki kebiasaan belajar terstruktur dapat
meningkatkan pemahaman materi hingga 30 persen dibandingkan mereka yang belajar
secara asal-asalan. Artinya, menghindari cara belajar yang tidak efektif adalah
langkah awal menuju prestasi yang lebih baik.
Kebiasaan Buruk yang Sering Dilakukan Saat Belajar

Belajar Sambil Multitasking
Salah satu kebiasaan buruk saat
belajar yang paling umum adalah multitasking. Banyak siswa merasa bisa belajar
sambil membuka media sosial, menonton video, atau membalas chat. Padahal, otak
manusia tidak dirancang untuk fokus pada banyak hal sekaligus.
Multitasking membuat perhatian
terpecah dan menurunkan daya serap informasi. Akibatnya, waktu belajar jadi
lebih lama tapi hasilnya tidak maksimal. Ini termasuk dalam kesalahan belajar
siswa dan mahasiswa yang sering dianggap sepele.
Menunda-nunda Waktu Belajar
Prokrastinasi atau kebiasaan
menunda adalah musuh besar produktivitas. Banyak pelajar baru mulai belajar
ketika deadline sudah dekat. Kebiasaan ini membuat proses belajar penuh tekanan
dan minim pemahaman.
Menunda belajar juga memperkuat fokus
belajar yang buruk, karena otak dipaksa bekerja dalam kondisi stres. Dalam
jangka panjang, kebiasaan ini bisa menurunkan motivasi dan rasa percaya diri
terhadap kemampuan akademik.
Belajar Sistem Kebut Semalam
Belajar sistem kebut semalam
sering dianggap solusi cepat, padahal ini termasuk cara belajar yang tidak
efektif. Materi memang bisa masuk ke ingatan jangka pendek, tapi cepat hilang
setelah ujian selesai.
Data dari American Psychological
Association menyebutkan bahwa tidur cukup berperan besar dalam proses
konsolidasi memori. Kurang tidur justru menurunkan kemampuan mengingat dan
berpikir kritis. Jadi, kebiasaan kebut semalam bukan hanya tidak efektif, tapi
juga merugikan kesehatan.
Tidak Punya Jadwal Belajar yang Jelas
Belajar tanpa jadwal membuat
waktu belajar tidak konsisten. Hari ini belajar lama, besok tidak sama sekali.
Pola seperti ini membuat otak sulit membentuk rutinitas.
Tanpa jadwal, siswa dan mahasiswa
cenderung belajar berdasarkan mood. Ini menjadi bagian dari kesalahan belajar
siswa dan mahasiswa yang sering tidak disadari. Jadwal belajar yang sederhana
dan realistis jauh lebih efektif dibanding belajar secara spontan.
Mengabaikan Istirahat dan Kesehatan
Banyak pelajar menganggap
istirahat sebagai pemborosan waktu. Padahal, otak membutuhkan jeda untuk
memproses informasi. Belajar terus-menerus tanpa istirahat justru menurunkan
konsentrasi.
Ketika tubuh lelah, fokus belajar
yang buruk akan semakin terasa. Istirahat singkat, tidur cukup, dan asupan
nutrisi yang baik adalah bagian penting dari proses belajar yang sehat dan
berkelanjutan.
Dampak Jangka Panjang Kebiasaan Buruk Saat Belajar

Jika dibiarkan, kebiasaan buruk saat belajar tidak hanya berdampak pada nilai akademik, tapi juga pada mental dan motivasi belajar. Pelajar bisa merasa cepat lelah, mudah stres, dan kehilangan minat belajar.Dalam jangka panjang, pola belajar yang salah juga memengaruhi kemampuan manajemen waktu dan disiplin diri. Padahal, dua hal ini sangat dibutuhkan tidak hanya di dunia pendidikan, tetapi juga di dunia kerja.
Mengubah Kebiasaan Belajar
Menghindari cara belajar yang tidak efektif tidak harus dilakukan secara ekstrem. Perubahan kecil tapi konsisten justru lebih berdampak. Mulai dari mengatur waktu belajar, mengurangi distraksi digital, hingga memberi ruang untuk istirahat.Belajar mengenali pola diri sendiri juga penting. Setiap orang punya waktu fokus yang berbeda. Dengan memahami ritme belajar, siswa dan mahasiswa bisa membangun kebiasaan yang lebih sehat dan produktif.
Belajar Efektif di Era Digital
Di era digital, tantangan belajar memang semakin kompleks. Distraksi datang dari berbagai arah, tapi teknologi juga bisa jadi solusi. Banyak platform edukasi digital menyediakan fitur belajar terstruktur, materi interaktif, dan pengingat jadwal belajar.Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, pelajar bisa memperbaiki fokus belajar yang buruk dan menghindari kesalahan belajar siswa dan mahasiswa yang sering terjadi karena kurangnya sistem belajar yang jelas.Belajar efektif bukan soal siapa yang paling lama duduk di depan buku, tapi siapa yang punya kebiasaan belajar yang tepat. Menghindari kebiasaan buruk saat belajar seperti multitasking, menunda-nunda, dan kebut semalam adalah langkah awal menuju proses belajar yang lebih fokus dan bermakna.
Dengan mengubah kebiasaan kecil, siswa dan mahasiswa bisa meningkatkan kualitas belajar, menjaga kesehatan mental, dan meraih hasil akademik yang lebih maksimal.




