Pencegahan perundungan tidak cukup mengandalkan poster,
deklarasi, atau tindakan setelah kasus terjadi. Sekolah perlu membangun
kebiasaan sehari-hari yang membuat murid merasa dihormati, memiliki orang
dewasa tepercaya, berani melapor, dan terlindungi dari pembalasan. Artikel ini
membahas penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman berdasarkan kebijakan
terbaru, termasuk perubahan dari TPPK dan Satgas menuju tanggung jawab kepala
sekolah serta Pokja BSAN di pemerintah daerah. Kepala sekolah, guru BK, wali
kelas, dan orang tua juga akan menemukan langkah praktis untuk mengenali
risiko, memperkuat relasi, merespons laporan, dan memantau iklim sekolah.
Microlearning dapat membantu menyamakan pemahaman seluruh warga sekolah tanpa
menggantikan penanganan kasus secara profesional.
- Jawaban
Singkat
- Apa
Itu Budaya Sekolah Aman dan Nyaman?
- Memahami
Perundungan dengan Lebih Tepat
- Mengapa
Perundungan Tumbuh dari Budaya Sehari-hari?
- Tanda
Budaya Sekolah Memberi Ruang bagi Perundungan
- Cara
Mencegah Perundungan dari Rutinitas Sekolah
- Apa
yang Harus Dilakukan Ketika Murid Melapor?
- Pembagian
Peran dalam Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
- Cara
Memantau Iklim Sekolah
- Kesalahan
yang Perlu Dihindari
- Peran
Microlearning dan Platform White-Label
- Contoh
Rencana Implementasi 90 Hari
- FAQ
Jawaban Singkat
Sekolah aman dan nyaman adalah lingkungan belajar yang
melindungi kebutuhan spiritual, keselamatan fisik, kesejahteraan psikologis,
keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital seluruh warga
sekolah. Pencegahan perundungan menjadi bagian dari budaya tersebut, bukan
program tambahan yang hanya dijalankan ketika kasus muncul.
Kepala sekolah perlu memastikan aturan, keteladanan orang
dewasa, pengawasan, kanal pelaporan, perlindungan pelapor, dan mekanisme
respons berjalan konsisten. Guru BK serta wali kelas membantu deteksi dini,
pendampingan, dan tindak lanjut. Murid perlu dilibatkan sebagai subjek yang
ikut membangun kesepakatan dan budaya pertemanan. Orang tua menjadi mitra untuk
mengenali perubahan perilaku dan mendukung keamanan anak, termasuk di ruang
digital.
Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 telah mencabut
Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023. TPPK di sekolah dan Satgas PPKSP di
daerah tidak lagi berlaku. Penyelenggaraan BSAN di sekolah menjadi tanggung
jawab kepala sekolah dengan partisipasi warga sekolah, sedangkan dukungan pemerintah
daerah dilaksanakan melalui Pokja BSAN.
Budaya positif dapat mengurangi risiko, tetapi tidak
menjamin semua kasus hilang. Sekolah tetap memerlukan respons cepat, rahasia,
adil, dan berorientasi pada keselamatan.
Apa Itu Budaya Sekolah Aman dan Nyaman?
Budaya Sekolah Aman dan Nyaman atau BSAN adalah keseluruhan
tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah
untuk menjamin kebutuhan spiritual, pelindungan fisik, kesejahteraan psikologis
dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital demi menjaga
lingkungan belajar yang kondusif.
Definisi tersebut berasal dari Permendikdasmen Nomor 6 Tahun
2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Pelaksanaannya diperjelas melalui
Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Budaya
Sekolah Aman dan Nyaman.
Kebijakan ini menggeser fokus dari pendekatan yang terutama
reaktif—menangani pelanggaran setelah terjadi—menuju pendekatan promotif,
preventif, dan kolaboratif. Sekolah tetap harus menangani kasus, tetapi juga
perlu memperbaiki kondisi yang memungkinkan kekerasan, diskriminasi,
perundungan, dan ketidaknyamanan terus berulang.
|
Aspek BSAN |
Pertanyaan Praktis untuk Sekolah |
|
Pemenuhan kebutuhan spiritual |
Apakah warga sekolah dapat menjalankan keyakinannya dengan
aman dan saling menghormati? |
|
Pelindungan fisik |
Apakah ruang, kegiatan, fasilitas, dan pengawasan
melindungi warga sekolah dari bahaya fisik? |
|
Kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural |
Apakah murid merasa diterima, tidak dipermalukan, dan
terlindungi dari diskriminasi serta tekanan sosial? |
|
Keadaban dan keamanan digital |
Apakah interaksi digital, data pribadi, penggunaan gawai,
dan komunikasi daring dikelola secara aman dan beretika? |
Informasi regulasi, pedoman penyelenggaraan, materi edukasi,
dan mekanisme BSAN tersedia melalui portal
resmi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Kemendikdasmen.
Sekolah aman bukan sekolah yang tidak pernah menerima
laporan. Banyaknya laporan juga dapat menunjukkan bahwa murid mulai percaya
pada mekanisme perlindungan yang tersedia.

Memahami Perundungan dengan Lebih Tepat
Perundungan adalah perilaku menyakiti, merendahkan,
mengintimidasi, mengucilkan, atau mengendalikan orang lain yang biasanya
melibatkan ketimpangan kekuatan dan dapat berulang atau berpotensi berulang.
Ketimpangan itu tidak selalu berupa kekuatan fisik. Popularitas, senioritas,
jumlah anggota kelompok, status ekonomi, informasi pribadi, kemampuan akademik,
gender, disabilitas, atau penguasaan teknologi juga dapat menjadi sumber
kekuatan.
Perundungan dapat terjadi dalam beberapa bentuk:
- Fisik,
seperti memukul, mendorong, merusak barang, atau menghalangi seseorang.
- Verbal,
seperti mengejek, mengancam, memberi julukan merendahkan, atau menyebarkan
komentar seksual.
- Sosial
atau relasional, seperti mengucilkan, mempermalukan, memanipulasi
pertemanan, atau menyebarkan rumor.
- Digital,
seperti mengirim pesan menghina, membuat akun palsu, menyebarkan foto,
melakukan doxing, atau mengeluarkan seseorang dari kelompok daring untuk
mempermalukannya.
Tidak semua konflik antarmurid merupakan perundungan. Dua
murid yang memiliki kekuatan relatif setara dapat berselisih tanpa adanya pola
dominasi. Namun, pembedaan ini tidak berarti konflik biasa boleh diabaikan.
Satu tindakan kekerasan yang serius tetap memerlukan respons walaupun belum
berulang atau belum dikategorikan sebagai perundungan.
Mengapa ketimpangan kekuatan perlu diperhatikan?
Ketika ketimpangan kekuatan terjadi, murid yang menjadi
sasaran mungkin tidak mampu menghentikan perilaku tersebut sendiri. Nasihat
seperti “balas saja”, “jangan terlalu sensitif”, atau “selesaikan berdua” dapat
menambah risikonya.
Sekolah perlu melihat konteks:
- Apakah
satu pihak takut menolak?
- Apakah
perilaku dilakukan oleh kelompok?
- Apakah
ada ancaman jika murid melapor?
- Apakah
pelaku memiliki pengaruh sosial yang lebih kuat?
- Apakah
konten digital dapat terus disebarkan?
- Apakah
murid menjadi sasaran karena identitas atau kebutuhannya?
Penentuan kategori formal dan tindak lanjut perlu mengacu
pada regulasi serta hasil pemeriksaan kasus, bukan hanya pada satu definisi
ringkas dalam materi edukasi.
Tidak semua konflik adalah perundungan, tetapi setiap laporan tetap perlu didengar sebelum sekolah menentukan apa yang sebenarnya terjadi.
Mengapa Perundungan Tumbuh dari Budaya Sehari-hari?
Perundungan jarang muncul dalam ruang yang sepenuhnya
terpisah dari kehidupan sekolah. Perilaku tersebut dapat tumbuh dari lelucon,
bahasa, aturan tidak tertulis, relasi senioritas, dan respons orang dewasa yang
terus berulang.
Ejekan dianggap bagian dari keakraban
Sebagian ejekan mungkin terjadi dalam hubungan yang setara
dan disepakati. Masalah muncul ketika satu anak merasa terhina, tetapi kelompok
terus melakukannya dengan alasan “hanya bercanda”.
Sekolah perlu mengajarkan bahwa niat dan dampak sama-sama
perlu dipertimbangkan. Jika seseorang sudah meminta perilaku dihentikan,
melanjutkannya bukan lagi bentuk keakraban.
Murid populer mendapat toleransi lebih besar
Atlet sekolah, pengurus organisasi, murid berprestasi, anak
tokoh masyarakat, atau senior dapat memperoleh perlakuan berbeda.
Ketidakkonsistenan ini mengirim pesan bahwa perlindungan bergantung pada
status.
Aturan perlu berlaku berdasarkan perilaku dan dampaknya,
bukan berdasarkan reputasi orang yang terlibat.
Orang dewasa menggunakan penghinaan sebagai disiplin
Guru tidak dapat meminta murid saling menghormati jika
koreksi di kelas dilakukan dengan label seperti “malas”, “bodoh”, “cari
perhatian”, atau “pembuat masalah”.
Disiplin positif bukan berarti membiarkan pelanggaran. Guru tetap
dapat memberi batasan dan konsekuensi, tetapi diarahkan pada perilaku, bukan
merendahkan identitas anak.
Senioritas dianggap tradisi
Instruksi yang merendahkan, tugas personal bagi senior,
panggilan yang dipaksakan, atau pengujian keberanian kadang dibenarkan sebagai
cara membangun kekompakan.
Tradisi seperti ini dapat menciptakan siklus: murid yang
dahulu diperlakukan tidak adil merasa berhak melakukan hal serupa kepada
angkatan berikutnya. Pencegahannya perlu dimulai sejak MPLS
ramah tanpa perpeloncoan dan senioritas.
Ruang digital dianggap berada di luar tanggung jawab sekolah
Perundungan digital dapat bermula dari hubungan di sekolah
dan memengaruhi rasa aman murid saat kembali ke kelas. Sekolah tidak dapat
mengendalikan seluruh aktivitas daring, tetapi perlu mengajarkan etika digital,
perlindungan data, penyimpanan bukti, cara melapor, dan batas keterlibatannya
secara jelas.
Pelapor justru mendapat konsekuensi sosial
Jika nama pelapor tersebar, ia mungkin disebut pengadu,
dijauhi, ditekan untuk mencabut laporan, atau disalahkan karena “merusak nama
sekolah”. Pengalaman tersebut tidak hanya berdampak pada satu anak. Murid lain
akan belajar bahwa diam lebih aman daripada meminta bantuan.

Tanda Budaya Sekolah Memberi Ruang bagi Perundungan
Sekolah tidak perlu menunggu kasus besar untuk melakukan
evaluasi. Beberapa tanda awal dapat terlihat dalam interaksi sehari-hari.
|
Tanda yang Terlihat |
Risiko di Baliknya |
Pertanyaan Evaluasi |
|
Julukan merendahkan dianggap biasa |
Batas antara bercanda dan menyakiti menjadi kabur |
Apakah murid dapat meminta ejekan dihentikan tanpa
ditertawakan? |
|
Murid tertentu selalu duduk atau bekerja sendiri |
Pengucilan sosial mungkin tidak terdeteksi |
Apakah pembagian kelompok memberi ruang partisipasi yang
adil? |
|
Area tertentu jarang diawasi |
Pelanggaran mudah terjadi tanpa diketahui |
Di mana murid paling sering merasa tidak aman? |
|
Laporan sering berakhir dengan “berdamai saja” |
Ketimpangan kekuatan dan risiko pembalasan diabaikan |
Apakah keselamatan dinilai sebelum mediasi? |
|
Guru memberikan respons berbeda |
Status sosial memengaruhi penanganan |
Apakah prosedur diterapkan konsisten? |
|
Grup kelas penuh sindiran atau penyebaran foto |
Keamanan digital belum menjadi budaya |
Siapa yang memoderasi dan bagaimana bukti dilaporkan? |
|
Murid takut dianggap lemah |
Norma kelompok mendukung diam |
Apakah meminta bantuan dipandang sebagai tindakan aman? |
|
Tidak pernah ada laporan |
Kanal mungkin tidak dikenal atau tidak dipercaya |
Apakah murid tahu harus menghubungi siapa? |
|
Pelanggaran langsung diumumkan kepada publik |
Privasi dan proses pemeriksaan terancam |
Siapa yang benar-benar perlu mengetahui kasus? |
Tanda-tanda tersebut bukan bukti otomatis bahwa perundungan
telah terjadi. Fungsinya adalah membantu sekolah menentukan area yang perlu
diperiksa lebih lanjut.
Sekolah juga dapat menggunakan instrumen deteksi dini yang
merujuk pada Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026. Kemendikdasmen menyatakan
instrumen perlu ditinjau dan disesuaikan dengan kondisi sekolah, serta hasilnya
harus dikelola dengan menjaga kerahasiaan data murid dan keluarga. Rujuk instrumen
deteksi dini Kemendikdasmen.
Cara Mencegah Perundungan dari Rutinitas Sekolah
Pencegahan yang kuat menggunakan pendekatan menyeluruh atau
whole-school approach. Artinya, aturan, pembelajaran, relasi, pengawasan,
pelaporan, pendampingan, kepemimpinan, dan keterlibatan keluarga bergerak dalam
arah yang sama.
WHO juga merekomendasikan agar pencegahan kekerasan
dimasukkan ke dalam kegiatan rutin sekolah dan interaksi dengan anak, keluarga,
serta masyarakat. Lihat panduan
praktis WHO mengenai pencegahan kekerasan berbasis sekolah.
1. Susun kesepakatan perilaku bersama murid
Aturan seperti “dilarang melakukan bullying” terlalu umum
jika murid tidak memahami perilaku yang dimaksud.
Kesepakatan kelas dapat memuat contoh konkret:
- Tidak
menyebarkan foto atau percakapan pribadi tanpa izin.
- Berhenti
ketika teman menyatakan tidak nyaman.
- Tidak
menggunakan identitas, kondisi fisik, keluarga, agama, atau kemampuan
sebagai bahan ejekan.
- Tidak
mengucilkan seseorang sebagai bentuk hukuman kelompok.
- Meminta
bantuan orang dewasa ketika situasi tidak aman.
- Tidak
membalas pelapor.
Murid perlu dilibatkan dalam penyusunannya. Namun, sekolah
tetap bertanggung jawab memastikan isi kesepakatan melindungi hak anak dan
tidak ditentukan hanya berdasarkan suara mayoritas.
2. Ajarkan keterampilan, bukan hanya larangan
Murid membutuhkan latihan untuk:
- Menyatakan
batasan dengan aman.
- Menanggapi
lelucon yang menyakiti.
- Keluar
dari tekanan kelompok.
- Mendukung
teman tanpa memperbesar risiko.
- Menyimpan
bukti perundungan digital.
- Melaporkan
kejadian secara faktual.
- Memperbaiki
perilaku setelah melakukan pelanggaran.
Keterampilan tersebut dapat dilatih melalui kasus pendek,
role-play yang aman, diskusi, cerita, atau refleksi. Hindari meminta murid
memerankan pengalaman traumatisnya di depan kelas.
3. Siapkan peran bagi saksi
Sebagian besar murid mungkin tidak menjadi pelaku utama atau
sasaran langsung, tetapi berada sebagai saksi. Saksi dapat memperkuat
perundungan dengan tertawa, merekam, membagikan konten, atau diam karena takut.
Sekolah dapat mengajarkan beberapa pilihan respons:
- Tidak
ikut menertawakan atau menyebarkan konten.
- Mengajak
teman yang menjadi sasaran menjauh dari situasi.
- Melapor
kepada orang dewasa tepercaya.
- Menyimpan
bukti jika aman.
- Menawarkan
dukungan setelah kejadian.
- Tidak
melakukan konfrontasi jika membahayakan dirinya.
Murid tidak boleh dibebani tanggung jawab menggantikan peran
orang dewasa.
4. Petakan lokasi dan waktu berisiko
Perundungan dapat lebih mudah terjadi di:
- Toilet.
- Koridor.
- Kantin.
- Ruang
ganti.
- Area
tunggu jemputan.
- Angkutan
sekolah.
- Kegiatan
ekstrakurikuler.
- Grup
percakapan kelas.
- Masa
transisi sebelum atau setelah pelajaran.
Pemetaan bukan berarti memasang pengawasan berlebihan di
semua tempat. Sekolah dapat memperbaiki jadwal piket, pencahayaan, akses bantuan,
desain ruang, atau kehadiran orang dewasa di lokasi yang paling membutuhkan.
5. Pastikan setiap murid memiliki orang dewasa tepercaya
Sekolah dapat melakukan check-in sederhana: “Jika Anda
mengalami masalah, siapa orang dewasa di sekolah yang dapat Anda hubungi?”
Jika seorang murid tidak dapat menyebutkan satu nama pun,
sekolah memiliki celah perlindungan. Solusinya dapat berupa sistem guru
pendamping, wali kelas aktif, jadwal konseling yang mudah diakses, atau kanal
untuk meminta percakapan pribadi.
6. Sediakan beberapa kanal pelaporan
Satu kotak pengaduan tidak cukup untuk semua situasi.
Sekolah dapat menyediakan:
- Laporan
langsung kepada guru atau guru BK.
- Formulir
tertulis.
- Kanal
digital resmi.
- Pelaporan
melalui orang tua.
- Permintaan
pertemuan rahasia.
- Mekanisme
rujukan kepada pihak di luar sekolah jika diperlukan.
Setiap kanal harus menjelaskan siapa yang menerima laporan,
kapan respons awal diberikan, bagaimana kerahasiaan dijaga, dan apa yang dapat
dilakukan jika pelapor merasa tidak aman.
Anonimitas dapat membantu deteksi awal, tetapi mungkin
membatasi pemeriksaan. Karena itu, sekolah perlu menjelaskan perbedaannya
secara jujur.
7. Terapkan disiplin yang mendidik dan proporsional
Pendekatan pemulihan bukan berarti menghilangkan
konsekuensi. Sekolah tetap perlu:
- Menghentikan
perilaku.
- Melindungi
pihak yang terdampak.
- Memeriksa
fakta.
- Menentukan
konsekuensi sesuai aturan dan tingkat risiko.
- Membantu
anak memahami dampak tindakannya.
- Menetapkan
perubahan perilaku yang harus ditunjukkan.
- Memantau
risiko pengulangan dan pembalasan.
Permintaan maaf tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran
penyelesaian. Korban juga tidak seharusnya dipaksa bertemu atau berdamai jika
belum aman atau tidak bersedia.
8. Perkuat inklusivitas
Murid yang terlihat berbeda dari norma kelompok dapat
menghadapi risiko lebih tinggi. Sekolah perlu memeriksa apakah aturan, bahasa,
fasilitas, materi, kegiatan, dan sistem dukungannya melindungi murid dengan
latar belakang dan kebutuhan yang beragam.
Inklusivitas bukan hanya program khusus bagi kelompok
tertentu. Inklusivitas menentukan apakah setiap murid dapat belajar,
berpartisipasi, dan meminta bantuan tanpa harus menyembunyikan dirinya.
Kebijakan anti-perundungan akan kehilangan kredibilitas jika
murid masih melihat penghinaan, diskriminasi, atau penyalahgunaan kuasa
dilakukan oleh orang dewasa.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Murid Melapor?
Respons pertama dapat menentukan apakah murid merasa aman
untuk melanjutkan laporan. Guru tidak harus langsung mengetahui seluruh fakta,
tetapi perlu menghindari respons yang meremehkan atau menyalahkan.
Langkah 1: Dengarkan dan nilai keselamatan segera
Gunakan respons yang tenang:
- “Terima
kasih sudah memberi tahu.”
- “Saya
akan mendengarkan terlebih dahulu.”
- “Apakah
kamu merasa aman sekarang?”
- “Apakah
ada ancaman jika orang lain mengetahui kamu melapor?”
- “Siapa
yang kamu rasa aman untuk mendampingi?”
Jika ada bahaya langsung, kebutuhan medis, ancaman serius,
kekerasan seksual, dugaan tindak pidana, atau risiko menyakiti diri,
keselamatan dan rujukan kepada pihak yang berwenang harus diprioritaskan.
Langkah 2: Jangan menjanjikan kerahasiaan absolut
Guru dapat mengatakan bahwa informasi akan dibatasi kepada
pihak yang perlu membantu. Janji “saya tidak akan memberi tahu siapa pun” sulit
dipenuhi jika kasus membutuhkan perlindungan atau rujukan.
Jelaskan proses berikutnya dengan bahasa yang sesuai usia.
Langkah 3: Catat fakta awal dengan hati-hati
Catat:
- Apa
yang terjadi.
- Kapan
dan di mana.
- Siapa
yang terlibat atau menyaksikan.
- Apakah
pernah terjadi sebelumnya.
- Apakah
terdapat bukti digital.
- Apa
dampak dan kebutuhan keselamatan saat ini.
Hindari pertanyaan berulang yang membuat murid harus
menceritakan pengalaman berkali-kali kepada banyak orang.
Langkah 4: Pisahkan perlindungan dari pembuktian
Sekolah dapat memberikan perlindungan sementara tanpa
menunggu seluruh pemeriksaan selesai. Misalnya, menambah pengawasan, mengubah
akses ruang, menunjuk pendamping, atau mencegah kontak yang tidak aman.
Perlindungan sementara tidak boleh dibingkai sebagai hukuman
terhadap pelapor, seperti memindahkan korban tanpa persetujuannya sementara
situasi lain dibiarkan.
Langkah 5: Tentukan jalur penanganan
Berdasarkan penjelasan resmi Kemendikdasmen, kasus nonpidana
ditangani sekolah melalui tata tertib dan kode etik dengan manajemen kasus
kolaboratif. Pelanggaran yang terkait peraturan perundang-undangan ditangani
melalui mekanisme rujukan lintas sektor dengan dukungan Pokja BSAN di tingkat
pemerintah daerah.
Sekolah perlu mengikuti Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026,
Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026, dan prosedur daerah yang berlaku. Artikel
ini tidak menggantikan telaah hukum atau penilaian profesional atas kasus
tertentu.
Langkah 6: Pantau setelah keputusan dibuat
Kasus belum tentu selesai setelah sanksi, mediasi, atau
permintaan maaf. Sekolah perlu memantau:
- Apakah
perilaku berhenti.
- Apakah
terjadi pembalasan.
- Apakah
murid merasa aman di kelas dan ruang digital.
- Apakah
dukungan psikososial diperlukan.
- Apakah
aturan atau pengawasan perlu diperbaiki.
- Apakah
pihak yang melakukan pelanggaran menunjukkan perubahan perilaku.
Laporan dianggap selesai bukan ketika formulir ditutup, tetapi ketika risiko telah dikelola dan murid dapat kembali belajar dengan aman.
Pembagian Peran dalam Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 membawa perubahan tata
kelola yang perlu dipahami sekolah.
|
Struktur atau Pihak |
Kedudukan Terkini |
Peran Utama |
|
Kepala sekolah |
Penanggung jawab penyelenggaraan BSAN di sekolah |
Memimpin kebijakan, pencegahan, pembagian peran, respons,
dan evaluasi |
|
Guru dan tenaga kependidikan |
Pelaksana bersama |
Memberi keteladanan, melakukan deteksi dini, menerima
laporan, mendokumentasikan, dan merujuk |
|
Guru BK, wali kelas, dan kesiswaan |
Penguatan layanan di pendidikan menengah |
Deteksi dini, respons cepat, pendampingan, koordinasi, dan
layanan psikososial |
|
Murid |
Subjek dan agen budaya positif |
Menyusun kesepakatan, mempraktikkan relasi sehat,
mendukung teman, dan menggunakan kanal laporan |
|
Orang tua dan komite |
Mitra sekolah |
Memberi informasi, mendukung anak, memantau perubahan, dan
terlibat dalam evaluasi |
|
Pokja BSAN pemerintah daerah |
Mekanisme lintas sektor di daerah |
Mendukung edukasi, perencanaan, pengawasan, koordinasi,
dan rujukan lintas sektor |
|
TPPK sekolah |
Tidak lagi berlaku |
Digantikan mekanisme tanggung jawab kepala sekolah dan
partisipasi warga sekolah |
|
Satgas PPKSP daerah |
Tidak lagi berlaku |
Digantikan Pokja BSAN |
Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 telah dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku. Karena itu, sekolah perlu memperbarui SK, SOP, materi
pelatihan, halaman situs, formulir pelaporan, dan komunikasi yang masih
menyebut TPPK atau Satgas PPKSP sebagai struktur aktif.
Perubahan nama struktur tidak cukup. Sekolah tetap perlu
memastikan fungsi perlindungan, pelaporan, pencatatan, pendampingan, rujukan,
dan evaluasi benar-benar memiliki penanggung jawab.
Cara Memantau Iklim Sekolah
Sekolah tidak dapat menilai keamanan hanya dari jumlah kasus
yang tercatat. Jumlah laporan yang rendah dapat berarti kasus sedikit, tetapi
juga dapat berarti murid tidak mengetahui kanal atau tidak percaya akan
dilindungi.
Gunakan kombinasi indikator berikut.
|
Area Pemantauan |
Contoh Indikator |
Cara Membaca |
|
Rasa aman |
Persentase murid yang merasa aman di kelas, toilet,
koridor, kegiatan, dan ruang digital |
Periksa perbedaan berdasarkan kelas, jenjang, atau
kelompok kebutuhan |
|
Akses bantuan |
Murid dapat menyebutkan orang dewasa atau kanal yang dapat
dihubungi |
Ukur pemahaman, bukan hanya keberadaan poster |
|
Respons awal |
Waktu antara laporan dan kontak awal kepada pelapor |
Respons cepat belum berarti kasus harus langsung
diputuskan |
|
Perlindungan |
Tindakan sementara dan pemantauan pembalasan terlaksana |
Pastikan tindakan tidak justru membebani korban |
|
Kapasitas staf |
Guru menyelesaikan pelatihan dan memahami simulasi kasus |
Penyelesaian modul perlu diikuti praktik |
|
Budaya relasi |
Frekuensi ejekan, pengucilan, atau konflik berulang |
Gunakan survei anonim dan diskusi sampel |
|
Keamanan digital |
Pemahaman tentang privasi, bukti, pelaporan, dan
penyebaran konten |
Periksa juga pengalaman di grup informal |
|
Tindak lanjut |
Kasus ditinjau kembali setelah keputusan |
Nilai apakah perilaku berhenti dan rasa aman pulih |
Data sensitif tidak boleh ditampilkan pada dashboard umum.
Laporan kepada pimpinan atau pemangku kepentingan sebaiknya menggunakan data
agregat, menghapus identitas yang tidak diperlukan, dan membatasi akses
berdasarkan peran.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Menganggap tidak ada laporan berarti sekolah aman
Sekolah tanpa laporan belum tentu bebas perundungan. Murid
mungkin takut, tidak tahu harus melapor kepada siapa, atau pernah melihat
laporan sebelumnya diabaikan.
Selain menghitung kasus, ukur kepercayaan terhadap sistem
dan pengetahuan murid tentang cara mencari bantuan.
Membuat kampanye satu hari tanpa memperbaiki praktik
Seminar dan deklarasi dapat membangun kesadaran, tetapi
efeknya terbatas jika ejekan, senioritas, penghinaan, dan respons tidak
konsisten tetap terjadi.
Materi perlu diteruskan melalui kesepakatan, latihan,
pengawasan, supervisi guru, dan evaluasi.
Memaksa korban dan pelaku berdamai
Pertemuan langsung dapat berisiko jika ada ketimpangan
kekuatan, ancaman, trauma, atau kemungkinan pembalasan. Pendekatan pemulihan hanya
layak dipertimbangkan setelah keselamatan dinilai, pihak yang terdampak
bersedia, dan proses difasilitasi oleh orang yang kompeten.
Mengumumkan kasus untuk menunjukkan ketegasan
Membuka identitas atau rincian kasus dapat melanggar
privasi, memicu rumor, menghambat pemeriksaan, dan meningkatkan risiko
pembalasan.
Sekolah dapat menyampaikan bahwa suatu isu sedang ditangani
tanpa menyebarkan informasi pribadi.
Hanya melatih guru BK
Pencegahan bukan tugas eksklusif guru BK. Satpam, tenaga administrasi,
pelatih ekstrakurikuler, guru piket, wali kelas, pengelola asrama, dan pimpinan
perlu memahami perannya karena murid dapat melapor kepada siapa saja yang
dianggap aman.
Memberi label permanen kepada anak
Menyebut seorang anak sebagai “pelaku bullying” dapat
menutup ruang perubahan dan menggeser fokus dari perilaku yang harus
dihentikan. Sekolah tetap harus tegas terhadap pelanggaran, tetapi dokumentasi
dan percakapan sebaiknya menjelaskan perilaku, dampak, risiko, serta tindakan
perbaikan.
Menggunakan aplikasi sebagai pengganti kepercayaan
Formulir digital dapat mempermudah pelaporan, tetapi tidak
cukup jika murid tidak percaya pada orang yang menerima laporan. Sistem digital
harus didukung respons manusia, perlindungan data, batas akses, dan tindak
lanjut yang jelas.
Peran Microlearning dan Platform White-Label
Microlearning adalah pendekatan pembelajaran yang
menyampaikan satu konsep atau keterampilan dalam unit singkat dan fokus. Dalam
BSAN, microlearning dapat digunakan untuk menyamakan pemahaman tanpa
mengharuskan seluruh warga sekolah mengikuti pelatihan panjang pada waktu yang
sama.
Contoh modul untuk guru dan tenaga kependidikan:
- Membedakan
konflik, perundungan, dan kekerasan serius.
- Memberikan
respons pertama ketika murid melapor.
- Menjaga
kerahasiaan informasi.
- Menilai
risiko pembalasan.
- Mengenali
perundungan relasional.
- Menangani
bukti perundungan digital.
- Menggunakan
disiplin positif.
- Melakukan
rujukan sesuai peran.
Materi untuk orang tua dapat membahas perubahan perilaku
anak, cara mendengarkan tanpa menginterogasi, penyimpanan bukti digital,
komunikasi dengan sekolah, dan dukungan setelah laporan.
Murid membutuhkan materi berbeda berdasarkan usia. Video
singkat, skenario pilihan, refleksi, dan latihan respons sebagai saksi umumnya
lebih relevan daripada hanya membaca definisi.
White-label learning platform adalah platform pembelajaran
yang dapat digunakan dengan identitas sekolah, yayasan, dinas, atau organisasi
sendiri. FitAcademy dapat membantu lembaga:
- Menyediakan
learning path berdasarkan peran.
- Mendistribusikan
modul pendek melalui perangkat mobile.
- Menambahkan
kuis pemahaman dan studi kasus.
- Memantau
penyelesaian pelatihan.
- Menyediakan
pembaruan SOP dan materi.
- Mengelola
peserta dari beberapa sekolah atau wilayah.
- Menampilkan
data pembelajaran secara agregat.
Platform pembelajaran tidak seharusnya digunakan sebagai
basis data kasus tanpa desain keamanan, kewenangan, retensi, dan perlindungan
data yang memadai. Fungsi utamanya dalam konteks ini adalah edukasi, penguatan
kapasitas, dan pemantauan pembelajaran—bukan menggantikan manajemen kasus atau
mekanisme hukum.

FitAcademy FitAcademy membantu sekolah, yayasan, dan pengelola program menyediakan
microlearning berbasis peran untuk kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan,
orang tua, dan murid melalui platform pembelajaran dengan identitas lembaga
sendiri.Perkuat Kapasitas Sekolah dengan Materi yang Konsisten
Contoh Rencana Implementasi 90 Hari
Rencana ini berfokus pada fondasi budaya dan kapasitas
sekolah. Penanganan laporan yang sedang berlangsung tidak boleh ditunda sampai
program 90 hari selesai.
|
Periode |
Fokus |
Aktivitas Utama |
Output |
|
Hari 1–15 |
Transisi kebijakan |
Meninjau Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026,
Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026, SK, SOP, dan struktur lama |
Peta dokumen yang perlu diperbarui |
|
Hari 16–30 |
Pemetaan risiko |
Survei rasa aman, pemetaan lokasi, kanal digital, dan
diskusi dengan murid |
Daftar risiko dan prioritas |
|
Hari 31–45 |
Penetapan mekanisme |
Menentukan penanggung jawab, kanal laporan, alur respons,
perlindungan, dokumentasi, dan rujukan |
Alur yang mudah dipahami |
|
Hari 46–60 |
Penguatan kapasitas |
Microlearning, diskusi kasus, dan simulasi respons awal
untuk seluruh staf |
Staf memahami peran minimum |
|
Hari 61–75 |
Pembiasaan murid |
Kesepakatan kelas, latihan peran saksi, etika digital, dan
pengenalan kanal bantuan |
Murid memahami batasan dan pilihan tindakan |
|
Hari 76–90 |
Uji dan evaluasi |
Menguji alur laporan, meninjau akses, mengumpulkan umpan
balik, serta memperbaiki kelemahan |
Rencana perbaikan semester berikutnya |
Setelah 90 hari, sekolah dapat mengevaluasi:
- Apakah
dokumen dan struktur sudah mengikuti kebijakan terbaru?
- Apakah
semua staf mengetahui respons pertama yang harus diberikan?
- Apakah
murid dapat menyebutkan kanal bantuan?
- Apakah
kelompok murid yang lebih rentan ikut didengar?
- Apakah
mekanisme mencegah pembalasan?
- Apakah
orang tua memahami cara bekerja sama dengan sekolah?
- Apakah
data sensitif telah dilindungi?
- Apakah
evaluasi menghasilkan perubahan pada jadwal, fasilitas, atau praktik?
FAQ
Apa yang dimaksud dengan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman?
Budaya Sekolah Aman dan Nyaman adalah tata nilai, sikap,
kebiasaan, dan perilaku yang melindungi kebutuhan spiritual, keselamatan fisik,
kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan
digital warga sekolah. BSAN tidak hanya menangani kekerasan setelah terjadi,
tetapi juga membangun lingkungan yang mencegah risiko melalui tata kelola,
edukasi, partisipasi, dan respons yang berorientasi pada perlindungan.
Apa perbedaan konflik dan perundungan?
Konflik dapat terjadi antara pihak dengan kekuatan relatif
setara karena perbedaan kebutuhan atau pendapat. Perundungan biasanya
melibatkan perilaku menyakiti dan ketimpangan kekuatan serta dapat berulang
atau berpotensi berulang. Namun, satu tindakan serius tetap perlu ditangani
walaupun belum disebut perundungan. Sekolah harus memeriksa fakta, konteks,
dampak, ancaman, dan kebutuhan keselamatan sebelum menentukan respons.
Apakah TPPK masih berlaku pada 2026?
Tidak. Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mencabut
Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023. Berdasarkan penjelasan resmi
Kemendikdasmen, TPPK di sekolah dan Satgas PPKSP di pemerintah daerah tidak
lagi berlaku. Penyelenggaraan BSAN di sekolah menjadi tanggung jawab kepala
sekolah dengan partisipasi warga sekolah. Pemerintah daerah menjalankannya
melalui Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Bagaimana cara mencegah bullying di sekolah?
Gunakan pendekatan menyeluruh: aturan yang konkret,
keteladanan orang dewasa, penguatan keterampilan sosial, pengawasan area
berisiko, kanal pelaporan yang aman, perlindungan pelapor, disiplin positif,
edukasi digital, keterlibatan murid, dan kerja sama orang tua. Pencegahan harus
masuk ke rutinitas sekolah dan dievaluasi secara berkala, bukan hanya
disampaikan melalui seminar atau poster.
Apa yang harus dilakukan guru ketika murid melapor?
Dengarkan dengan tenang, ucapkan terima kasih, nilai
keselamatan segera, catat informasi awal, dan jelaskan bahwa data hanya
dibagikan kepada pihak yang perlu membantu. Jangan menyalahkan, menjanjikan
kerahasiaan absolut, atau memaksa perdamaian. Jika terdapat bahaya langsung,
kebutuhan medis, dugaan tindak pidana, atau risiko menyakiti diri, prioritaskan
perlindungan dan rujukan sesuai prosedur.
Apakah meningkatnya jumlah laporan berarti sekolah semakin tidak aman?
Belum tentu. Peningkatan laporan dapat mencerminkan
bertambahnya kejadian, tetapi juga dapat menunjukkan bahwa murid lebih mengenal
kanal dan lebih percaya untuk bersuara. Sekolah perlu membaca jumlah laporan
bersama data lain, seperti rasa aman, jenis kejadian, lokasi, pengulangan,
waktu respons, risiko pembalasan, serta hasil tindak lanjut. Satu angka saja
tidak cukup untuk menilai iklim sekolah.




