Pembatasan gawai di sekolah adalah pengaturan tentang kapan,
di mana, untuk tujuan apa, dan dalam kondisi apa murid boleh menggunakan
perangkat pribadi. Kebijakan ini bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan
cara mengurangi distraksi sekaligus menjaga ruang bagi pembelajaran digital
yang terarah. Artikel ini membantu guru, orang tua, siswa, dan pengelola
sekolah memahami Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026, membaca bukti
penelitian secara proporsional, merancang pengecualian, serta menyiapkan
prosedur penyimpanan, komunikasi darurat, penegakan, dan evaluasi. Sekolah juga perlu membedakan penggunaan gawai tanpa tujuan
dari teknologi yang memang mendukung pembelajaran. Platform pembelajaran,
microlearning, dan materi digital tetap dapat digunakan apabila dipilih
berdasarkan tujuan belajar, akses yang adil, perlindungan data, dan
pendampingan guru.
- Jawaban
Singkat
- Apa
Arti Pembatasan Gawai di Sekolah
- Mengapa
Gawai Dapat Mengganggu Fokus Belajar
- Apa
yang Dikatakan Bukti Penelitian
- Prinsip
Kebijakan yang Seimbang
- Kapan
Teknologi Tetap Layak Digunakan
- Cara
Menyusun Kebijakan Pembatasan Gawai
- Pembagian
Peran Sekolah, Guru, Orang Tua, dan Murid
- Contoh
Penerapan dalam Kegiatan Sekolah
- Kesalahan
yang Perlu Dihindari
- Peran
Platform Pembelajaran dan Microlearning
- Cara
Mengevaluasi Dampak Kebijakan
- FAQ
Jawaban Singkat
Pembatasan gawai di sekolah adalah kebijakan yang mengatur
penggunaan telepon seluler, jam tangan pintar, dan perangkat komunikasi digital
pribadi agar tidak mengganggu pembelajaran dan kegiatan sekolah. Di Indonesia,
Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 menegaskan bahwa pendekatannya
adalah pembatasan, bukan pelarangan mutlak.
Murid masih dapat menggunakan gawai untuk pembelajaran atas
arahan dan pengawasan pendidik. Pengecualian juga dapat diberikan untuk keadaan
darurat, kebutuhan medis, aksesibilitas, transportasi, atau alasan lain yang
dapat dipertanggungjawabkan.
Kebijakan ini berdampak pada murid, guru, tenaga
kependidikan, orang tua, dan pengelola sekolah. Implikasi praktisnya bukan
sekadar menulis larangan dalam tata tertib. Sekolah perlu menentukan waktu dan
area penggunaan, menyediakan tempat penyimpanan yang aman, menyiapkan jalur
komunikasi darurat, menetapkan konsekuensi yang mendidik, serta mengevaluasi
pelaksanaannya.
Pembatasan dapat mengurangi kesempatan murid memeriksa gawai
selama di sekolah. Namun, kebijakan tersebut tidak otomatis memperbaiki
prestasi, tidur, atau kesehatan mental. Hasil yang lebih luas membutuhkan kerja
sama sekolah dan keluarga, penguatan literasi digital, aktivitas nondigital
yang bermakna, serta desain pembelajaran yang tetap menarik.
Apa Arti Pembatasan Gawai di Sekolah
Pembatasan gawai di sekolah bukan berarti semua perangkat
digital harus hilang dari proses pendidikan. Yang dibatasi terutama adalah
penggunaan perangkat pribadi yang tidak berkaitan dengan tujuan belajar atau
berpotensi mengganggu kegiatan sekolah.
Melalui Surat Edaran
Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026, pemerintah memberikan pedoman agar satuan
pendidikan menyesuaikan tata tertib berdasarkan karakteristik, kebutuhan, dan
kondisi masing-masing. Dengan kata lain, sekolah tidak hanya diminta menyalin
satu model larangan yang sama.
Surat edaran tersebut menetapkan enam prinsip utama:
- Pembatasan
penggunaan, bukan pelarangan.
- Perlindungan
anak sebagai dasar kebijakan.
- Penguatan
literasi digital.
- Partisipasi
dan kolaborasi.
- Evaluasi
berkala.
- Kejelasan
tata kelola.
Perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang disediakan
sekolah untuk pembelajaran juga dibedakan dari gawai pribadi murid. Namun,
perangkat sekolah tetap perlu digunakan secara terarah. Laptop atau tablet
milik sekolah tidak otomatis bermanfaat hanya karena diberi label sebagai
teknologi pendidikan.
Yang perlu dihentikan bukan pembelajaran digital, melainkan penggunaan gawai tanpa tujuan, batas, dan pengawasan yang jelas.
Membatasi perangkat, akses, atau perilaku?
Kebijakan yang baik perlu menjawab tiga hal berbeda:
- Perangkat:
Apakah aturan berlaku untuk telepon seluler, smartwatch, tablet pribadi,
earphone, atau seluruh perangkat komunikasi?
- Akses:
Apakah gawai boleh dibawa tetapi harus dimatikan dan disimpan, atau harus
dititipkan?
- Perilaku:
Apakah yang dilarang adalah membuka media sosial, merekam tanpa izin,
bermain gim, atau menggunakan perangkat tanpa arahan guru?
Tanpa definisi tersebut, guru dapat menafsirkan aturan
secara berbeda. Murid pun sulit memahami batas antara penggunaan yang
diperbolehkan dan pelanggaran.

Mengapa Gawai Dapat Mengganggu Fokus Belajar
Gawai dapat mengganggu fokus karena menyediakan banyak
kemungkinan interupsi dalam satu perangkat: notifikasi, pesan, media sosial,
video pendek, gim, kamera, dan pencarian informasi yang tidak berkaitan dengan
pelajaran.
Masalahnya bukan hanya durasi menatap layar. Murid yang
menunggu pesan atau sesekali memeriksa telepon dapat berpindah perhatian dari
penjelasan guru, diskusi, bacaan, atau tugas yang sedang dikerjakan. Setelah
perhatian terpecah, murid memerlukan waktu untuk kembali memahami konteks
kegiatan belajar.
Gangguan juga dapat terjadi pada tingkat kelas. Satu telepon
yang berbunyi, video yang diputar, atau aktivitas merekam tanpa izin dapat
memengaruhi murid lain dan memaksa guru menghentikan pembelajaran untuk
menangani pelanggaran.
Fokus bukan satu-satunya pertimbangan
Sekolah juga perlu mempertimbangkan:
- kualitas
interaksi langsung antarmurid;
- risiko
perundungan atau penyebaran rekaman tanpa izin;
- paparan
konten yang tidak sesuai;
- keamanan
akun dan data pribadi;
- kebiasaan
bergerak dan bermain saat istirahat;
- ketimpangan
kepemilikan perangkat dan kuota;
- beban
guru dalam mengawasi penggunaan;
- kebutuhan
medis, aksesibilitas, dan komunikasi darurat.
Namun, tidak semua persoalan tersebut dapat diselesaikan
dengan menyimpan ponsel selama jam sekolah. Perundungan daring, misalnya, dapat
berlangsung di luar sekolah. Kebiasaan tidur juga lebih banyak dipengaruhi oleh
penggunaan gawai sepanjang hari dan malam, bukan hanya saat pelajaran.
Kebijakan sekolah paling langsung memengaruhi kesempatan
menggunakan gawai di sekolah. Dampak pada kesehatan mental, tidur, dan prestasi
dipengaruhi lebih banyak faktor dan memerlukan intervensi yang lebih luas.
Apa yang Dikatakan Bukti Penelitian
Bukti penelitian mendukung perlunya mengurangi distraksi,
tetapi belum mendukung klaim bahwa satu bentuk larangan pasti menghasilkan
semua dampak yang diharapkan.
UNESCO menilai teknologi seharusnya digunakan di kelas hanya
ketika memiliki peran yang jelas dalam mendukung pembelajaran. Pada Maret 2026,
UNESCO mencatat 114 sistem pendidikan—sekitar 58 persen negara—telah memiliki
larangan atau pembatasan tingkat nasional. Indonesia dikelompokkan bersama
negara yang meminta sekolah mengembangkan kebijakan pembatasan, bukan
menerapkan pelarangan nasional yang sepenuhnya seragam. Sumber:
UNESCO GEM Report
Meski demikian, pembatasan bukan obat tunggal. Studi SMART
Schools yang melibatkan 1.227 remaja usia 12–15 tahun di 30 sekolah menengah di
Inggris menemukan bahwa kebijakan restriktif berkaitan dengan penurunan
penggunaan ponsel dan media sosial selama berada di sekolah. Akan tetapi,
penelitian tersebut tidak menemukan perbedaan penggunaan secara keseluruhan
pada hari sekolah atau akhir pekan maupun kesehatan mental yang lebih baik.
Penelitian ini bersifat observasional lintas bagian sehingga tidak dapat membuktikan
hubungan sebab-akibat. Sumber:
The Lancet Regional Health–Europe melalui PubMed
Kesimpulan yang aman bukan “pembatasan tidak berguna” dan
bukan pula “larangan menyelesaikan semua masalah”. Kesimpulannya adalah:
- pembatasan
dapat mengurangi akses dan peluang terjadinya gangguan di sekolah;
- keberhasilannya
dipengaruhi kejelasan aturan dan konsistensi pelaksanaan;
- manfaat
terhadap hasil belajar perlu diukur, bukan diasumsikan;
- kesehatan
dan kebiasaan digital membutuhkan keterlibatan keluarga;
- sekolah
tetap perlu mengajarkan literasi digital dan penggunaan teknologi yang
bertanggung jawab.

Prinsip Kebijakan yang Seimbang
Kebijakan yang seimbang menggunakan kondisi tanpa gawai
sebagai keadaan normal selama kegiatan belajar, tetapi tetap menyediakan
penggunaan terbatas ketika perangkat benar-benar diperlukan.
|
Prinsip |
Pertanyaan yang Perlu Dijawab |
Contoh Keputusan |
|
Tujuan |
Masalah apa yang hendak dikurangi? |
Notifikasi saat pelajaran, perekaman tanpa izin, atau
konflik saat istirahat |
|
Ruang lingkup |
Perangkat dan kegiatan apa yang diatur? |
Ponsel, smartwatch, dan earphone selama pelajaran serta
kegiatan resmi |
|
Kondisi standar |
Di mana gawai disimpan? |
Dimatikan dan disimpan di tas, loker, atau tempat
penitipan |
|
Penggunaan untuk belajar |
Siapa yang dapat mengizinkan? |
Guru mengizinkan untuk aktivitas tertentu dengan waktu
yang ditentukan |
|
Pengecualian |
Kondisi apa yang dapat diterima? |
Medis, aksesibilitas, darurat, transportasi, dan kebutuhan
khusus |
|
Komunikasi |
Bagaimana keluarga menghubungi murid? |
Melalui nomor sekolah, wali kelas, atau petugas yang
ditetapkan |
|
Penegakan |
Apa respons terhadap pelanggaran? |
Pengingat, refleksi, komunikasi dengan orang tua, dan
tindak lanjut bertahap |
|
Evaluasi |
Bagaimana sekolah mengetahui dampaknya? |
Observasi kelas, data pelanggaran, survei, serta masukan
guru dan murid |
Proporsional menurut usia dan kegiatan
Murid kelas rendah tidak membutuhkan aturan yang sama dengan
siswa SMK yang menggunakan perangkat untuk proyek, praktik industri, navigasi
transportasi, atau komunikasi setelah jam sekolah. Sekolah juga dapat
membedakan antara:
- kegiatan
belajar di kelas;
- waktu
istirahat;
- kegiatan
kokurikuler dan ekstrakurikuler;
- kunjungan
lapangan;
- asesmen;
- perjalanan
pergi dan pulang sekolah.
Perbedaan ini bukan inkonsistensi selama tujuan dan batasnya
dapat dijelaskan.
Inklusif sejak awal
Pengecualian bukan tambahan yang dipikirkan setelah
kebijakan diberlakukan. Sekolah perlu merancangnya sejak awal untuk murid yang
menggunakan perangkat sebagai alat bantu komunikasi, pemantauan kondisi medis,
pengingat, navigasi, atau dukungan kebutuhan khusus lainnya.
Pengecualian dapat diberikan secara terbatas tanpa membuka
informasi medis murid kepada seluruh kelas. Guru yang relevan cukup mengetahui
prosedur yang harus dijalankan.
Kapan Teknologi Tetap Layak Digunakan
Teknologi layak digunakan ketika memberikan fungsi yang
sulit atau tidak efisien dilakukan dengan cara lain dan manfaatnya lebih besar
daripada potensi distraksi.
Sebelum meminta murid membuka gawai, guru dapat mengajukan
lima pertanyaan:
- Apa
tujuan belajar yang ingin dicapai?
- Mengapa
aktivitas ini memerlukan perangkat digital?
- Apakah
semua murid memiliki akses yang setara?
- Berapa
lama perangkat perlu digunakan?
- Bukti
belajar apa yang harus dihasilkan?
Contohnya, gawai dapat digunakan untuk:
- mengumpulkan
data lapangan;
- mendokumentasikan
proses eksperimen dengan persetujuan;
- mengakses
simulasi atau sumber primer;
- mengikuti
kuis formatif singkat;
- menggunakan
fitur aksesibilitas;
- mempelajari
etika digital, keamanan siber, koding, atau AI;
- mengakses
modul microlearning sebelum praktik;
- mengunggah
bukti tugas setelah kegiatan selesai.
Sebaliknya, meminta murid mencari informasi umum di internet
belum tentu memerlukan gawai pribadi. Guru dapat menyediakan bacaan terpilih,
perangkat bersama, atau materi yang sudah diunduh apabila pilihan tersebut
lebih fokus dan adil.
Pertanyaan utamanya bukan “apakah pembelajaran memakai layar?”, tetapi “apakah layar membantu murid melakukan pekerjaan belajar yang tepat?”
Gunakan pola buka–gunakan–simpan
Untuk aktivitas yang memerlukan gawai, guru dapat menerapkan
alur sederhana:
- Jelaskan
tujuan dan hasil yang harus dibuat.
- Sebutkan
aplikasi atau sumber yang boleh dibuka.
- Tetapkan
durasi penggunaan.
- Minta
murid menggunakan perangkat.
- Tutup
aktivitas digital dan simpan kembali perangkat.
- Lanjutkan
dengan diskusi, praktik, tulisan, atau refleksi tanpa layar.
Cara ini lebih mudah diawasi daripada membiarkan gawai
berada di meja sepanjang pelajaran.
Cara Menyusun Kebijakan Pembatasan Gawai
1. Definisikan masalah secara spesifik
Mulailah dengan bukti sederhana: jenis gangguan yang paling
sering terjadi, waktu kejadiannya, kelas yang terdampak, serta cara guru
menanganinya. Jangan langsung mengaitkan semua masalah kedisiplinan atau
prestasi dengan ponsel.
2. Tentukan ruang lingkup
Tentukan perangkat, waktu, tempat, dan kegiatan yang diatur.
Gunakan kalimat yang dapat diamati, misalnya “gawai dimatikan dan disimpan
selama pelajaran” alih-alih “gunakan gawai secara bijak”, yang terlalu luas
untuk ditegakkan.
3. Libatkan murid, guru, dan orang tua
Partisipasi bukan berarti semua pihak harus menyetujui
setiap keputusan. Tujuannya adalah menemukan kebutuhan yang mungkin terlewat,
memeriksa kelayakan prosedur, dan membangun pemahaman mengenai alasan
kebijakan.
Murid dapat membantu mengidentifikasi situasi yang rawan
konflik. Orang tua dapat menjelaskan kebutuhan transportasi dan komunikasi.
Guru dapat menilai beban pengawasan dan kebutuhan perangkat dalam pembelajaran.
4. Susun pengecualian dan komunikasi darurat
Tentukan siapa yang menyetujui pengecualian, bagaimana
mencatatnya, serta bagaimana murid dan keluarga mengakses bantuan dalam keadaan
darurat.
Orang tua perlu mengetahui nomor atau jalur resmi untuk
menghubungi sekolah. Murid juga harus tahu kepada siapa mereka dapat meminta
izin jika perlu menghubungi keluarga.
5. Siapkan penyimpanan yang aman
Pilihan penyimpanan dapat berupa:
- gawai
dimatikan dan tetap berada dalam tas;
- kantong
penyimpanan di kelas;
- loker
individual;
- tempat
penitipan terpantau.
Setiap pilihan memiliki konsekuensi biaya, waktu, risiko
kehilangan, dan tanggung jawab. Sekolah harus menjelaskan prosedur pengumpulan,
pencatatan, penyimpanan, serta pengembalian perangkat.
6. Tetapkan penegakan yang konsisten dan mendidik
Konsekuensi sebaiknya bertahap, mudah dipahami, dan tidak
mempermalukan murid. Contohnya dimulai dari pengingat, penyimpanan sementara
sesuai prosedur, refleksi singkat, komunikasi dengan orang tua, kemudian
pembinaan lanjutan untuk pelanggaran berulang.
Aturan juga berlaku pada keteladanan orang dewasa. Guru dan
tenaga kependidikan perlu menghindari penggunaan ponsel pribadi yang tidak
berkaitan dengan tugas ketika sedang mendampingi murid.
7. Ganti kebiasaan, bukan hanya mengambil perangkat
Saat istirahat tanpa ponsel, sekolah perlu menyediakan
pilihan aktivitas: buku, permainan papan, olahraga ringan, seni, ruang
percakapan, atau kegiatan komunitas. Jika tidak ada alternatif yang menarik,
kebijakan lebih mudah dipandang sebagai kehilangan semata.
8. Lakukan uji coba dan evaluasi
Sekolah dapat menjalankan pilot selama enam hingga delapan
minggu pada jenjang atau area tertentu. Setelah itu, tinjau pelaksanaan bersama
guru, murid, tenaga kependidikan, orang tua, dan komite sekolah.

Aturan yang sulit dijalankan secara konsisten akan
memindahkan beban dari murid ke guru. Karena itu, kelayakan operasional perlu
dinilai sebelum kebijakan diumumkan.
Pembagian Peran Sekolah, Guru, Orang Tua, dan Murid
|
Pihak |
Tanggung Jawab Utama |
|
Kepala sekolah |
Menetapkan tujuan, tata tertib, prosedur, pengecualian,
penyimpanan, pengawasan, dan evaluasi |
|
Guru |
Menegakkan aturan secara konsisten dan menentukan kapan
teknologi diperlukan untuk pembelajaran |
|
Tenaga kependidikan |
Mendukung penyimpanan, komunikasi darurat, pencatatan, dan
penanganan kejadian |
|
Orang tua/wali |
Mendukung aturan, memperbarui kontak darurat, dan
membangun kebiasaan digital sehat di rumah |
|
Murid |
Mengikuti batas penggunaan, menjaga perangkat, menghormati
privasi, dan menyampaikan kebutuhan khusus |
|
Komite sekolah |
Memberikan masukan, membantu komunikasi, dan mengawasi
agar kebijakan tetap proporsional |
|
Pemerintah daerah |
Mendukung sosialisasi, pendampingan, pemantauan, evaluasi,
dan pelaporan |
Kebiasaan di rumah perlu melengkapi kebijakan sekolah. Orang
tua dapat mempelajari screen
time, screen zone, dan screen break untuk mengatur waktu, area, dan jeda
penggunaan layar berdasarkan usia serta kebutuhan anak.
Contoh Penerapan dalam Kegiatan Sekolah
SD: gawai disimpan, perangkat bersama digunakan bila diperlukan
Sekolah dasar dapat menetapkan bahwa ponsel pribadi tetap
berada di rumah atau disimpan sesuai prosedur. Jika guru memerlukan teknologi,
aktivitas dapat menggunakan tablet sekolah secara berkelompok. Cara ini
mengurangi distraksi sekaligus mencegah kepemilikan perangkat menjadi syarat
untuk belajar.
SMP: penggunaan terbatas atas instruksi guru
Siswa menyimpan ponsel selama kegiatan sekolah. Dalam
pelajaran IPA, guru mengizinkan kelompok menggunakan satu perangkat selama
sepuluh menit untuk mendokumentasikan percobaan. Setelah foto dikumpulkan,
perangkat kembali disimpan dan siswa menulis analisis tanpa layar.
SMA: akses terjadwal untuk riset
Guru menyediakan daftar sumber dan pertanyaan penelitian.
Gawai dibuka selama periode tertentu, kemudian ditutup sebelum diskusi. Siswa
wajib mencatat sumber, membandingkan informasi, dan menjelaskan alasan memilih
bukti tertentu.
SMK: teknologi untuk prosedur dan bukti praktik
Siswa dapat mengakses video microlearning tentang prosedur
keselamatan sebelum praktik. Selama praktik, perangkat disimpan agar tidak
mengganggu keamanan. Pada akhir sesi, siswa mengunggah checklist atau bukti
tugas sesuai izin dan ketentuan privasi.
Pembelajaran koding dan AI
Pembatasan gawai tidak bertentangan dengan pembelajaran
koding dan kecerdasan artifisial di sekolah. Koding dan AI dapat dipelajari
menggunakan perangkat sekolah, aktivitas unplugged, diskusi etika, analisis
keluaran AI, maupun proyek terstruktur.
Tujuan pendidikannya juga tidak harus menjadikan setiap
siswa pengembang perangkat lunak. Artikel tujuan
belajar koding dan AI selain menjadi programmer membahas kemampuan
berpikir, pemecahan masalah, literasi data, dan penilaian kritis yang lebih
luas.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Menganggap surat edaran sebagai larangan total yang seragam
SE Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 memberi ruang
penyesuaian berdasarkan kondisi sekolah. Pelarangan tanpa pengecualian dapat
mengabaikan kebutuhan medis, aksesibilitas, pembelajaran, darurat, dan
transportasi.
Pendekatan yang lebih baik adalah menetapkan kondisi standar
tanpa gawai serta daftar pengecualian yang jelas.
Menyita gawai tanpa prosedur penyimpanan
Pengumpulan perangkat tanpa pencatatan dan pengamanan dapat
memunculkan risiko tertukar, rusak, atau hilang. Guru juga dapat dibebani
tanggung jawab yang tidak realistis.
Sekolah perlu menetapkan lokasi, petugas, waktu pengumpulan,
bukti penerimaan jika diperlukan, dan prosedur pengembalian.
Membiarkan setiap guru membuat aturan sendiri
Otonomi guru diperlukan untuk menentukan penggunaan
teknologi dalam pembelajaran. Namun, tata tertib dasar tetap harus konsisten.
Murid akan kesulitan mematuhi kebijakan jika konsekuensi dan cara penyimpanan
berubah pada setiap kelas.
Tidak menyiapkan jalur komunikasi keluarga
Orang tua mungkin menolak pembatasan karena takut tidak
dapat menghubungi anak saat darurat. Kekhawatiran tersebut perlu dijawab dengan
sistem komunikasi sekolah yang nyata, mudah diakses, dan diuji.
Mengandalkan hukuman tanpa literasi digital
Murid mungkin patuh di sekolah tetapi tetap menggunakan
gawai secara berlebihan di rumah. Karena itu, pembatasan perlu disertai
pembelajaran tentang privasi, etika bermedia, keamanan akun, verifikasi
informasi, algoritma rekomendasi, dan penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Mengukur keberhasilan hanya dari nilai ujian
Nilai dipengaruhi banyak faktor. Dalam tahap awal, sekolah
sebaiknya melihat hasil yang lebih dekat dengan kebijakan, seperti berkurangnya
interupsi, waktu mulai pelajaran, kepatuhan penyimpanan, dan kualitas interaksi
saat istirahat.
Peran Platform Pembelajaran dan Microlearning
Platform pembelajaran online adalah sistem digital untuk
mengelola materi, peserta, aktivitas, progres, kuis, dan hasil belajar secara
lebih terstruktur. Penggunaannya tetap relevan dalam sekolah yang membatasi
gawai selama kegiatan tertentu.
Kuncinya adalah memisahkan akses terus-menerus dari akses
yang dirancang. Materi digital dapat dijadwalkan sebelum pelajaran,
digunakan dalam sesi terarah, diakses melalui perangkat sekolah, atau
dipelajari kembali setelah jam sekolah.
Microlearning adalah pendekatan yang membagi materi menjadi
unit kecil dan fokus. Dalam konteks pembatasan gawai, format ini dapat
digunakan untuk:
- orientasi
singkat sebelum praktik;
- penguatan
satu konsep setelah pelajaran;
- panduan
keamanan digital;
- simulasi
pengambilan keputusan;
- kuis
formatif singkat;
- materi
untuk orang tua dan guru;
- pengulangan
materi secara mandiri.
Durasi pendek tidak otomatis membuat materi efektif. Setiap
unit tetap harus memiliki tujuan, penjelasan, aktivitas, dan hubungan dengan
pembelajaran di kelas.
White-label learning platform adalah platform pembelajaran
yang dapat digunakan dengan identitas sekolah atau lembaga sendiri. FitAcademy
dapat membantu sekolah, yayasan, pemerintah daerah, atau jaringan pendidikan
menyediakan materi microlearning, learning path, kuis, progres, dan sertifikat
dalam pengalaman belajar bermerek tanpa membangun sistem dari awal.
Pendekatan tersebut berguna ketika materi literasi digital
perlu dibagikan secara konsisten kepada banyak sekolah atau kelompok pengguna.
Namun, platform tetap harus ditempatkan sebagai pendukung kegiatan guru, bukan
pengganti interaksi dan pendampingan.
FitAcademy
Bangun Pembelajaran Digital yang Terarah dengan Merek Anda
FitAcademy membantu sekolah dan lembaga pendidikan mengelola materi microlearning, peserta, progres, kuis, dan sertifikat melalui platform white-label. Teknologi dapat dijadwalkan sesuai kebutuhan belajar tanpa mengharuskan murid terus berada di depan layar.
Jelajahi White-Label FitAcademyCara Mengevaluasi Dampak Kebijakan
Evaluasi sebaiknya membandingkan kondisi sebelum dan sesudah
kebijakan menggunakan data yang sederhana tetapi relevan.
|
Area Evaluasi |
Contoh Indikator |
Cara Mengumpulkan |
|
Distraksi kelas |
Interupsi karena ponsel per minggu |
Catatan ringkas guru |
|
Kepatuhan |
Persentase kelas mengikuti prosedur |
Observasi atau checklist |
|
Waktu belajar |
Waktu yang hilang untuk menangani gawai |
Sampel observasi |
|
Interaksi sosial |
Penggunaan area bermain, perpustakaan, atau aktivitas
bersama |
Observasi saat istirahat |
|
Pelanggaran |
Jenis, waktu, dan pengulangan kasus |
Catatan tanpa publikasi identitas |
|
Pengecualian |
Jumlah dan alasan pengecualian |
Rekap terbatas dan terlindungi |
|
Pengalaman pengguna |
Persepsi murid, guru, dan orang tua |
Survei singkat atau diskusi |
|
Operasional |
Waktu petugas, sengketa, kehilangan, atau kerusakan |
Catatan sekolah |
|
Pembelajaran digital |
Penyelesaian aktivitas terarah dan bukti belajar |
Data platform dan penilaian guru |
Jangan mengumpulkan data lebih banyak daripada yang
diperlukan. Informasi medis, kebutuhan khusus, dan identitas pelanggar harus
dilindungi. Data agregat lebih tepat untuk laporan evaluasi umum.
Setelah enam hingga delapan minggu, sekolah dapat memutuskan
untuk:
- melanjutkan
kebijakan;
- memperjelas
bagian yang membingungkan;
- mengubah
waktu atau zona pembatasan;
- memperbaiki
penyimpanan;
- menambah
pengecualian;
- menyediakan
aktivitas nondigital;
- meningkatkan
pelatihan guru;
- memperkuat
kerja sama dengan keluarga.

FAQ
Apakah siswa dilarang membawa HP ke sekolah?
Tidak selalu. Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026
mengatur pembatasan penggunaan, bukan larangan mutlak membawa gawai. Sekolah
dapat menentukan apakah perangkat disimpan di tas, loker, atau tempat
penitipan. Keputusan perlu mempertimbangkan kondisi sekolah, usia murid,
transportasi, keamanan penyimpanan, serta kebutuhan komunikasi setelah kegiatan
selesai.
Apakah HP boleh digunakan untuk pembelajaran?
Boleh apabila penggunaannya didasarkan pada pertimbangan
profesional guru dan sesuai dengan tujuan serta karakteristik pembelajaran.
Guru perlu menentukan aplikasi, waktu penggunaan, hasil yang harus dibuat, dan
cara pengawasannya. Setelah aktivitas selesai, perangkat sebaiknya kembali
disimpan agar tidak berubah menjadi sumber distraksi.
Apa saja pengecualian dalam pembatasan gawai?
Pengecualian dapat diberikan untuk pembelajaran atas arahan
pendidik, keadaan darurat, kebutuhan medis, aksesibilitas bagi murid penyandang
disabilitas atau kebutuhan khusus lainnya, transportasi, serta alasan lain yang
dapat dipertanggungjawabkan. Prosedurnya perlu jelas dan tetap berada dalam
pengawasan sekolah.
Apakah pembatasan gawai terbukti meningkatkan prestasi belajar?
Belum dapat disimpulkan bahwa pembatasan sendirian pasti
meningkatkan prestasi. Bukti menunjukkan bahwa kebijakan restriktif dapat
menurunkan penggunaan ponsel selama berada di sekolah, tetapi hasil akademik
dipengaruhi kualitas pengajaran, lingkungan belajar, dukungan keluarga,
kehadiran, dan banyak faktor lain. Karena itu, sekolah perlu mengukur hasilnya
secara lokal.
Bagaimana orang tua menghubungi anak ketika gawai disimpan?
Sekolah perlu menyediakan jalur komunikasi resmi melalui
kantor sekolah, wali kelas, petugas piket, atau nomor darurat. Prosedur
tersebut harus disosialisasikan dan diuji sebelum kebijakan diterapkan.
Pengecualian juga dapat diberikan apabila anak memiliki kebutuhan komunikasi
khusus yang dapat dipertanggungjawabkan.
Apakah sekolah yang membatasi gawai masih memerlukan platform pembelajaran?
Masih, selama akses digital dirancang berdasarkan tujuan
belajar. Platform dapat digunakan melalui perangkat sekolah, pada waktu yang
ditentukan, atau di luar sesi tatap muka. Sekolah juga dapat memanfaatkan Rumah
Pendidikan dan sumber belajar digital nasional serta platform bermerek
untuk menyusun pengalaman belajar yang lebih terarah.




